“Pemeran Pengganti”

Photo by Web Donut on Pexels.com

Pendahuluan

Kepala negara merupakan posisi tertinggi yang sangat penting bagi kelangsungan jalannya pemerintahan negara yang bersangkutan, sehingga harus dilindungi keselamatannya secara ketat. Salah satu metode perlindungan yang dipakai, khususnya era kerajaan-kerajaan kuno, adalah dengan menempatkan “pengganti raja” yang memiliki kesamaan wajah dengan raja asli. Sebelumnya, pengganti ini dilatih sedemikian rupa agar dapat tampil menggantikan raja asli dalam acara-acara yang diprediksi bakal mengancam keselamatan sang raja. Jadi, pengganti raja harus siap mati menggantikan raja asli yang bakal disasar oleh musuh-musuhnya, baik musuh negara ataupun lawan politik.

Metode keamanan raja ini mungkin dapat dikembangkan idenya secara mistis, dengan menempatkan seorang pengganti yang bakal menanggung luka apapun yang dapat menyakiti sang raja. Luka ataupun sakit yang mencederai sang raja, akan ditransfer sehingga berpindah dan dialami oleh pengganti raja, sedangkan sang raja tidak menderita luka atau sakit sedikitpun. Dengan demikian keamanan sang raja benar-benar terjamin sepenuhnya. Ide ini yang dipakai dalam skenario film serial tv tionghua berjudul Novoland: Pearl Eclipse yang tayang mulai pertengahan minggu kedua bulan November 2021. Pelaku pemindahan ini menjadi BaiXi (白溪) bagi sang raja. 白溪 sendiri secara harfiah berarti “anak-sungai putih” yang menyiratkan aliran mulus semua sakit dari sang raja ke pihak penggantinya. Uniknya, pelaku BaiXi melakukannya secara sukarela, sehingga berhak untuk melepaskan dirinya dari ikatan itu.

Ternyata ide “pemeran pengganti” ini merebak pada berbagai negara dalam berbagai era, termasuk di jaman modern ini dengan hadirnya para stuntman yang menggantikan pemeran utama saat adegan-adegan berbahaya demi “keselamatan” pemeran utamanya. Tidak sembarang orang dapat menjadi pemeran pengganti, harus memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan memuaskan pengatur peran. Para stuntman misalnya, harus mampu memerankan dengan apik aksi-aksi berbahaya yang dituntut dalam skenario filmnya. Dengan demikian mereka harus mahir dan cermat dalam mengatur dan mengelola rentetan bahaya yang harus dimunculkan, serta cakap olah tubuh agar adegan berbahaya tersebut secara aman dapat dilakukannya dan dapat terdramatisasikan dengan mencekam bagi penontonnya.

Jelas bahwa keterampilan melakukan aksi-aksi berbahaya dengan aman, tidak dikuasai oleh para pemeran utama film tersebut. Di lain pihak, pemeran utama dinilai lebih berharga di mata pengatur peran dibandingkan dengan para stuntman tersebut, sehingga pemeran utama dihindarkan dari ancaman cedera bila melakukan sendiri adegan berbahaya yang dituntut oleh skenarionya. Bagaimana dengan “pemeran pengganti” dalam narasi iman kristiani?

Kasih dan Keadilan

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com
Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Narasi kristiani memiliki latar belakang skenario yang berbeda, bahkan bertolak belakang secara prinsip dengan latar belakang munculnya peran stuntman dalam proses pembuatan film di dunia modern. Narasi CFR (CreationFallRedemption: Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan) menjadi latar belakang iman kristiani atas sejarah manusia. Narasi ini diawali dengan adegan spektakuler karya penciptaan yang penuh kasih dan kuasa dari Pencipta yang maha mulia. Hikmat-Nya yang sempurna menjadikan ciptaan-Nya sungguh sangat baik (Kej. 1:31), termasuk menjadikan manusia yang berkondisi “posse non peccare, posse peccare” (dapat tak berdosa, dapat berdosa).

Manusia yang awalnya tanpa dosa, dikaruniai kapasitas kehendak bebas asli (genuine free will) sehingga memiliki potensi untuk dapat memilih apa yang baik maupun apa yang jahat dengan tanpa diintervensi oleh Pencipta. Tentu saja kapasitas ini bersifat relatif, sesuai dengan natur ciptaan yang berproses dan tidak dapat lepas dari batasan dimensi ruang-waktu.

Keengganan manusia menjalani proses pertumbuhan dengan beriman (percaya + bersandar penuh) dan taat pada pimpinan TUHAN, sang penciptanya, menyebabkan manusia melawan TUHAN lewat melanggar satu-satunya larangan-Nya. Konsekuensi pemberontakannya tersebut membuat manusia ditolak dari hadirat maha kudus TUHAN dan kehilangan kemuliaan-Nya (Rm. 3:23). Keadaan ini menjadikan manusia “non posse non peccare” (mustahil tak berdosa) yang berujung pada maut baginya (Rm. 6:23a), sebagaimana yang dilihat TUHAN dan memilukan-Nya (Kej. 6:5-6).

Hikmat sempurna TUHAN telah menyediakan jalan keluar sempurna bagi penyelesaian masalah di atas (Kej. 3:15), namun manusia perlu menyadari dan mengakui kebutuhannya atas jalan keluar TUHAN tersebut agar meresponinya dengan penuh syukur dan menjalaninya sesuai rancangan-Nya. Prinsip ini telah disingkapkan saat TUHAN menyiapkan Hawa bagi Adam (Kej. 2:18-25). Sebelum sampai pada kesadaran tersebut, manusia diijinkan TUHAN untuk berupaya membuat jalan keluar sendiri. TUHAN menyampaikan standart kelulusan berupa serangkaian hukum-Nya yang harus dipenuhi oleh manusia, dan manusia menggunakannya sebagai sarana menyusun jalan keluarnya sendiri.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Muncullah ide timbangan dengan anak timbangan berupa perbuatan baik manusia di satu sisi timbangan dan perbuatan jahat manusia di sisi lain timbangan. Manusia mengira bahwa bila perbuatan baiknya lebih berat nilainya dibandingkan dengan perbuatan jahatnya, maka manusia bisa bebas dari jerat maut. Hal ini mendorong manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, agar melebihi bobot nilai kejahatan yang dilakukannya. Bila demikian, manusia tidak butuh jalan keluar TUHAN.

Masalahnya, kondisi manusia sudah mustahil tak berdosa di mata TUHAN. Manusia yang telah sepenuhnya tercemar dan terbelenggu dosa, tidak mungkin berbuat baik yang bebas cemaran dosa.

“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor (NIV/NKJV: filthy rags, ESV: polluted garment);”  [Yes. 64:6a; TB LAI]

Dengan demikian anak timbangan yang dipakai harus diganti. Sistem timbangan yang dipakai harus menimbang antara kesucian TUHAN di satu sisi dengan kenajisan manusia di sisi lain. Jadi, mustahil manusia dapat menyeimbangkan sistem timbangan ini dengan upaya perbuatan baiknya sendiri yang nilai bobotnya bagai kain kotor tersebut. Timbangan itu hanya dapat seimbang bila ada satu Pribadi yang sepenuhnya sehakekat dengan TUHAN, namun sekaligus sepenuhnya manusia agar dapat berdiri di sisi manusia dalam sistem timbangan tersebut.

Satu-satunya pribadi yang memenuhi kriteria tersebut hanya pribadi Allah Anak, yang merupakan “anak tunggal” Allah, yang berkenosis (mengosongkan diri-Nya) dan berinkarnasi menjadi manusia sepenuhnya tanpa meninggalkan sedikitpun ke-Allah-annya (Flp. 2:5-7). Dengan demikian, diri-Nya dapat menjadi pemeran pengganti bagi umat manusia. TUHAN sama sekali tidak berkewajiban untuk menyerahkan Anak tunggal-Nya menjadi BaiXi bagi manusia yang berdosa. Hal ini dilakukan-Nya semata-mata karena kasih-Nya (Yoh. 3:16a). Demikian pula Allah Anak tidak berkewajiban menjadi pemeran pengganti, melainkan semata karena kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada manusia yang dikasihi Dia.

Kesucian TUHAN tidak memberi peluang bagi kesewenangan, sehingga TUHAN juga berlaku adil dalam jalan keluar-Nya. Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah Anak tersebut (Yoh. 1:1-3, 14), sesuai dengan kesaksian Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:15, 29-34; Mat. 3:13, 16-17; Mrk. 1:9-11), harus bayar harga dengan menanggung jalan salib hingga mati di kayu salib sebagai simbol keterkutukan (Ul. 21:22-23). Pemeran pengganti di film diakui kontribusinya, bahkan BaiXi dihormati oleh raja yang digantikan tanggungan luka/sakitnya. Yesus Kristus bukan hanya tidak diakui sebagai satu-satunya jalan keluar, malah penderitaan jalan salib-Nya dituduhkan sebagai akibat kesalahan-Nya sendiri.

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”  [Yes. 53:3-5; TB LAI]

Dengan demikian, salib Kristus mendemokan kasih dan keadilan TUHAN. Siapa pun manusia yang percaya kepada Kristus dan karya salib-Nya, ditempatkan di sisi timbangan yang sama dengan posisi Yesus Kristus karena telah menerima penebusan Kristus, sehingga mengalami keadaan timbangan yang seimbang. Inilah yang menjelaskan makna beroleh anugerah hidup kekal (Yoh. 3:16b-18). Jadi, jalan keluar yang telah dibukakan TUHAN kepada Adam dan Hawa sebelum mengusir mereka dari Taman Eden (Kej. 3:15), terwujud melalui inkarnasi hingga penyaliban Yesus Kristus sampai mati di kayu salib.

Penutup

Manusia yang pada dasarnya menolak penderitaan, kecuali kelompok abnormal sadomasochists, akan secara alami meghindar dari bahaya. Kecondongan ini baik bagi keberadaan manusia. Ide keberadaan pemeran pengganti sebenarnya merupakan tindakan kesewenangan penguasa yang abai akan prinsip kesetaraan manusia di hadapan Penciptanya. Ide tersebut juga menunjukkan keegoisan manusia yang mau menggunakan segala cara untuk keselamatan dirinya sendiri. Narasi peristiwa “Kejatuhan” (Fall) menyingkapkan manusia tega untuk menyodorkan orang lain agar dirinya lepas dari tanggungan yang membahayakan keselamatan dirinya.

Sebenarnya posisi stuntman di dunia film juga merupakan manifestasi kecondongan tersebut, namun dilegalkan oleh sistem dunia agar melegakan semua pihak dari tuntutan hati nuraninya. Kecondongan itu bahkan memburuk lewat penyodoran “kambing hitam” (scapegoat), yang dikondisikan lewat fitnah keji untuk menjadi penanggung kesalahan oknum jahat. Celakanya, peng-kambing hitam-an ini dapat terjadi di semua lingkungan relasi manusia dengan sesamanya, baik itu dalam keluarga maupun dalam karier. Semuanya dibuat untuk membangun rasa aman semu dalam sistem dunia yang telah tercemar dan terbelenggu dosa.

Hilangnya rasa aman dalam diri manusia, timbul sejak manusia terusir dari hadirat TUHAN yang maha kuasa sehingga kehilangan perlindungan sejati. Kondisi ini mendorong manusia untuk menciptakan sistem perlindungan diri, yang sayangnya diwarnai oleh kecemaran akal budi karena telah kehilangan kemuliaan TUHAN sejak manusia berdosa kepada-Nya. Timbangan yang menimbang perbuatan baik dan perbuatan jahat manusia, merupakan satu sistem yang dirancang manusia sebagai jalan keluar dari ancaman maut kuasa dosa. Hukum TUHAN yang dijadikan standard penilaiannya, tidak mampu lagi dipahami secara tanpa noda karena keberdosaan manusia, sehingga sistem tersebut tidak tepat.

Sistem timbangan dengan anak timbangan yang tepat seperti ulasan di atas, merupakan jalan keluar satu-satunya yang disediakan TUHAN sesuai natur kesempurnaan hikmat, kasih, dan keadilan-Nya. TUHAN mengijinkan manusia mencoba mengupayakan sendiri keseimbangan timbangan dosa itu, untuk menyadarkan manusia akan kefanaannya sehingga mengakui kebutuhannya akan jalan keluar yang diberikan TUHAN. Semoga manusia disadarkan dan menerima jalan keluar TUHAN tersebut. Terpujilah TUHAN yang penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (Mzm. 103:8).

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar