Won’t give up

Prinsip KIP

Photo by Pixabay on Pexels.com

Manusia telah dilengkapi dengan berbagai kapasitas mumpuni untuk dapat melaksanakan mandat budaya yang dipercayakan Tuhan baginya sejak diciptakan. Di samping itu, Tuhan juga membuka kesempatan relasi akrab dengan manusia, agar manusia mampu mengenal Tuhan dengan benar. Pengenalan tersebut penting agar manusia tidak tertipu untuk semena-mena menilai Tuhan, baik pada waktu senang maupun pada waktu susah.

Dari berbagai kapasitas diri yang dikaruniakan Tuhan bagi manusia, ada tiga kapasitas utama yang penting untuk terus dipegang (keep) hingga akhir hayat, yaitu Kasih, Iman, dan Pengharapan (1 Kor. 13:13).

Photo by Yaroslav Shuraev on Pexels.com

Iman lebih dari sekadar percaya, karena iman harus dipraktekkan agar tidak ‘mati’ (Yak. 2:17, 26). Sederhananya, iman itu bagaikan seseorang yang mau duduk di satu kursi. Orang itu harus percaya bahwa kursi tersebut kuat untuk menopang berat keseluruhan tubuhnya, agar dia dapat duduk nyaman. Jadi orang itu menggantungkan (relying) ‘keselamatan’ dirinya saat duduk, pada kursi yang didudukinya.

Tersirat dalam aksi ini adanya harapan, bahwa kursi yang akan diduduki tersebut dapat diandalkannya. Dengan demikian, iman dan pengharapan saling topang beriringan. Bila tidak ada iman, mustahil ada pengharapan.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  [Ibr. 11:1; TB LAI]

Tentu saja kursi yang menjadi subjek ilustrasi di atas tidak selalu dapat diandalkan. Bisa saja kaki kursi itu patah karena ternyata tidak sanggup memikul bobot tubuh orang yang mendudukinya, baik karena kursi itu sudah mulai rapuh atau karena dibebani dengan bobot yang melebihi kapasitasnya. Ternyata kursi juga butuh disayang, dengan cara dirawat maupun dipakai sesuai dengan kapasitasnya. Tanpa perlakuan kasih sayang, jangan salahkan bila kemudian kursi tersebut tidak nyaman, bahkan dapat mencelakakan, saat diduduki.

Berbeda dengan kursi yang dapat ‘mencelakakan’ orang yang duduk di atasnya, Tuhan yang  maha kuasa merupakan subjek yang selalu dapat diandalkan. Bukan hanya itu, natur-Nya yang maha adil dan maha benar, menjamin bahwa Tuhan tidak semena-mena dalam kuasa-Nya. Apalagi natur Tuhan yang bebas batas secara sempurna, memastikan ketidak-mutasian (immutability) diri-Nya. Hakekat diri Tuhan yang tidak berubah secara absolut dalam kemaha-muliaan-Nya, menjamin diri-Nya layak diandalkan (trustworthiness) dalam perjalanan hidup manusia. Jadi, mempercayai (trust) Tuhan dan mempercayakan diri kepada-Nya (relying) merupakan tindakan manusia yang paling masuk akal dibandingkan dengan percaya dan bergantung pada subjek lainnya yang dapat berubah.

Kepekaan manusia akan penyertaan Tuhan, secara bertahap akan membangun kasihnya kepada Tuhan, karena terus menerus mengecap kebaikan-kebaikan Tuhan baginya. Tentu saja kebaikan Tuhan ini tidak semata terukur secara materi ataupun ukuran duniawi lainnya. Manusia harus beriman kepada-Nya agar mampu melihat berbagai bentuk curahan kasih Tuhan kepadanya, terutama saat sedang dilanda derita yang seolah tanpa akhir dan secara manusiawi dapat memupus asa/pengharapan.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, behwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan tahan uji dan tahan uji  menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”  [Rm. 5:3-5; TB LAI]

Penutup

Hidup manusia senantiasa diwarnai dengan perjuangan. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai ciptaan tanpa daya upaya. Mempercayakan tugas menguasai dan menaklukkan bumi kepada manusia telah menyiratkan natur dinamis manusia yang secara alami akan terdorong untuk berdaya upaya. Tantangan hidup yang diijinkan Tuhan terjadi, secara logis tidak akan melampaui kemampuan manusia mengatasinya, karena Tuhan memberkati manusia terlebih dulu sebelum memberi “mandat budaya” kepada manusia (Kej. 1:28). Keberdosaan manusia yang berdampak pencemaran dosa pada segenap ciptaan, memang merubah sikap dan pengalaman manusia atas mandat tersebut. Bila sebelumnya mandat tersebut merupakan suatu hak istimewa (priviledge) manusia yang layak dikerjakan dengan rasa syukur oleh manusia, keberdosaan telah menjadikannya sebagai beban berat yang harus dipikul dan tidak terhindarkan oleh manusia.

Pandemi covid-19 merupakan salah satu sikon yang makin memperberat mandat budaya tersebut. Segala kenyataan penderitaan yang dialami manusia, tidak menihilkan kasih Tuhan bagi manusia. Kepekaan untuk mengenal dan meresponi kasih Tuhan tersebut, harus dilandaskan pada iman kepada pribadi Tuhan yang layak diandalkan. Iman inilah yang melandasi pengharapan manusia dalam berjuang menapaki perjalanan hidup sehari lepas sehari. Iman ini pulalah yang juga memampukan manusia ‘ogah nyerah’ saat menghadapi berbagai pergumulan hidup, karena Tuhan telah berjanji memberikan jalan keluar. Semoga Tuhan mengaruniakan iman kepada Anda dan saya. Terpujilah Dia.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  [1 Kor. 10:13; TB LAI]

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

4 comments

  1. Thanks Pak. Mengingatkan saya utk beriman dan menikmati penyertaanNya dalam suka, maupun dalam kesulitan dan tantangan. Diingatkan kembali..rencanaNya indah. Percaya saja. 🙂

    Suka

    1. Terimakasih atas komentar Anda. Dalam renungan ini, konsep tersebut dibatasi pada konteks perjalanan hidup seseorang, dari lahir hingga matinya, yang dapat mengalami kondisi kehidupan “makmur” ataupun “suntur” menurut ukuran kesuksesan duniawi. Jadi tidak membahas kondisi setelah kematian. Demikian batasan yang jelas tergambar dalam kesatuan tulisan ini secara menyeluruh. Semoga menjawab, Gbu.

      Suka

Tinggalkan komentar