(un-)conditional love

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Pendahuluan

Manusia memiliki berbagai kebutuhan untuk hidup. Ada kebutuhan jasmani, kebutuhan jiwani, ataupun rohani. Mungkin ada kebutuhan yang dirasakan paling mendesak, sesuai dengan kondisinya saat itu. Abraham Maslow telah mencoba mengklasifikasikan elemen kebutuhan manusia dalam teorinya “Hierarchy of Needs.” Pada dasarnya tidak ada elemen kebutuhan yang dapat diabaikan pemenuhannya agar keberadaan manusia menjadi utuh sebagaimana maksud Sang Pencipta.

Sebagai ciptaan menurut gambar rupa Tuhan yang maha kasih, manusia pada naturnya butuh kasih, baik dikasihi maupun sekaligus mengasihi. Secara alami, kebutuhan kasih ini dibangun sejak awal keberadaannya, yaitu sebagai buah kasih dari sepasang suami isteri yang diberkati dengan keturunan. Sayangnya, kecemaran dosa yang merusak tatanan alami yang sungguh sangat baik sejak diciptakan, telah mengacau-balaukan sistem kasih ini. Awal keberadaan seorang manusia kini belum tentu didasarkan oleh kasih, bisa saja merupakan hasil kejahatan seksual ataupun kebodohan oleh umbaran nafsu seksual yang membutakan akal sehat. Teknologi yang berkembang demikian pesat bahkan dapat merekayasa awal keberadaan seorang manusia dari sejak peleburan sel sperma seorang pria dengan sel telur seorang wanita, tanpa interaksi personal antar keduanya, melalui proyek “bayi tabung.”

Kenyataan di atas menimbulkan perenungan, masihkah kasih perlu bagi keberadaan manusia? Bila dikatakan masih perlu, seberapa pentingnya? Jangan-jangan signifikansinya hanya sebatas isu yang digoreng untuk melariskan novel picisan, drama serial tv dan lain sejenisnya, yang mengangkat tema kasih/cinta guna capaian top box office yang bakal menguntungkan segelintir para pihak pembuatnya. Renungan ini disusun berdasarkan wawasan iman kristiani, semoga dapat bermanfaat bagi banyak manusia modern dan memuliakan Tuhan yang maha kasih.

Kasih Manusiawi

Abraham Maslow meletakkan kebutuhan jasmani dan kebutuhan akan rasa aman sebagai dua kebutuhan paling mendasar yang memotivasi seseorang untuk berjuang hidup. Sedangkan elemen cinta/kasih merupakan kebutuhan berikutnya sebelum diikuti oleh beberapa kebutuhan lainnya (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry). Pemikiran Maslow ini jelas lebih mengutamakan aspek fisik daripada menilai manusia sebagai eksistensi kesatuan psikosomatik. Memang pengamatan sepintas seolah membuktikan kebenaran pemikiran Maslow. Toh manusia dapat hidup dan berkembang secara fisik dengan cara membebaskannya dari kegalauan jaminan hidup, yaitu cukup sandang-pangan-papan. Namun nyatanya ada cukup banyak keretakan keluarga di masa kini, khususnya hubungan orangtua dengan anaknya yang hanya dilimpahi dengan materi, tanpa cukup waktu kebersamaan bernuansa kasih. Demikian pula banyak terjadi perselingkuhan hingga perceraian yang melanda keluarga makmur sekalipun, karena kasih mula-mula tidak dirawat dengan baik.

Photo by Yan Krukov on Pexels.com

Masalah keretakan relasi sebagai dampak mendinginnya kasih, bukan hanya berlangsung dalam lingkup keluarga. Dalam lingkup kerja juga dapat terjadi saling sikut dan jegal-menjegal karena ambisi pribadi yang memadamkan kasih kepada sesamanya.

Manusia menjadi serigala buas bagi sesamanya (homo homini lupus est). Kekuasaan menjadi sasaran yang diperebutkan dan diperjuangkan dengan segala cara, bahkan telah disabdakan Tuhan bakal mewarnai relasi suami-isteri setelah dosa merasuk dalam keberadaan manusia. Hanya manusia langka yang tidak tergiur dengan kekuasaan, apalagi yang mau melepaskan kekuasaan demi kasih.

Serial drama tv berjudul The Virtuous Queen of Han (Da Han Xian Hou Wei Zi Fu  大汉贤后卫子夫) yang tayang di bulan Agustus-September 2014, mengisahkan kehidupan Wei Zi Fu sejak belia hingga jadi permaisuri yang dikasihi oleh kaisar Wu Liu Che dari dinasti Han. Berbagai intrik perebutan kekuasaan, khususnya di lingkungan harem istana, dialami oleh Zi Fu yang berasal dari keluarga rakyat jelata miskin. Awalnya Zi Fu hanya diterima sebagai selir tanpa posisi resmi keseliran. Belum lagi ratu saat itu yang merupakan cucu kesayangan nenek kaisar, sangat berupaya untuk membinasakan Zi Fu. Karakter Zi Fu yang baik dan murah hati diuji dengan berbagai penderitaan yang beberapa kali nyaris merengut nyawanya, sejak awal masuk harem istana hingga menjadi ratu.

Modal utama yang dimiliki Zi Fu adalah kasih yang diberikan dan diterimanya dari sanak saudara dan dari sang kaisar. Dapat diduga bahwa kasih sang kaisar kepadanya mengalami kondisi naik turun, karena kaisar memiliki beberapa selir. Pantaslah, mengapa Tuhan hanya menciptakan dan memberikan seorang Hawa menjadi isteri bagi seorang Adam, bukan. Puncak ujian terjadi saat kaisar dibutakan oleh cemburunya kepada staf terpercayanya yang diisukan memiliki perselingkuhan dengan Zi Fu, hingga kaisar ingin membunuh staf tersebut. Wei Zi Fu yang difitnah, melakukan pembelaan hingga kaisar murka, mencabut dan menodongkan pedangnya ke arah Zi Fu. Aksi yang kemudian akan dilakukan Zi Fu dan motivasi di balik aksi tersebut menegaskan makna kasihnya kepada kaisar.

Keanekaragaman relasi manusia dengan kerabatnya, memunculkan keragaman klasifikasi kasih manusiawi. Filsuf Yunani kuno menyampaikan paling tidak ada 5 variasi kasih manusiawi, mulai yang bersifat romantis hingga yang bersifat umum (lihat Valentine’s Day – faithfulONE Ministry). Apapun variasi kasih manusiawi, tidak dapat dihindari bahwa kasih tersebut dipengaruhi oleh kondisi yang dialami manusia. Sebagai manusia yang menjalani proses kehidupan sosial, maupun berbagai batasan dimensi lainnya, kasih manusia bersifat terkondisi. Di samping variasi kasih manusiawi, filsuf Yunani kuno mencatat masih ada jenis kasih yang lain, disebut sebagai kasih ilahi (agape).

Agape

Mengakui akan adanya kasih ilahi, berarti harus mengakui adanya Sang Ilahi tersebut. Manusia tidak akan dapat mengenal Sang Ilahi bila bukan karena Dia menyatakan diri-Nya kepada manusia. Manusia hanya dapat mengenal Sang Ilahi sejauh dan sebatas Dia menyatakannya kepada manusia. Oleh sebab itu maka penyataan diri Sang Ilahi merupakan sumber satu-satunya bagi manusia untuk mengenal-Nya. Penyataan diri Sang Ilahi dapat nampak pada alam semesta karya-Nya, maupun pada sarana khusus yang dipilih-Nya sebagai sarana penyataan diri-Nya.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Alkitab, berdasarkan berbagai prinsip latar belakang keberadaannya, diakui umat kristiani sebagai sarana khusus tersebut (lihat Komunikasi Kekinian – Laman 2 – faithfulONE Ministry). Dari Alkitab itulah terdapat penyataan diri Tuhan bahwa Dia adalah kasih, dan manusia dianugerahi untuk mengenal serta memiliki kasih itu (1 Yoh. 4:8, 16). Tanpa anugerah Tuhan, manusia tidak akan mengenal apalagi memiliki kasih ilahi tersebut.

Hakekat Tuhan itu bebas batas karena Dia adalah pencipta semua batas dimensional tersebut. Dengan demikian, kasih ilahi yang merupakan salah satu pancaran natur-Nya juga bebas batas. Tentu saja kasih ilahi yang dikenal dan dimiliki oleh manusia, tidak bersifat bebas batas, karena manusia selalu berada dalam berbagai batas dimensional yang menandai natur ciptaan. Walaupun demikian, tetap ada percikan sifat-sifat khusus kasih ilahi tersebut yang membedakannya dengan kasih manusiawi.

Salah satu penyataan diri Tuhan dalam Alkitab ada pada salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”  [Yoh. 3:16; TB LAI]

Dari ayat tersebut dapat dicermati betapa besarnya kasih Tuhan itu, sesuai dengan natur ke-maha besar-an diri-Nya. Dengan demikian, sifat kasih seseorang akan selaras dengan kepribadian dirinya. Wei Zi Fu yang memiliki kepribadian layak dikasihi (loveable) mampu memancarkan kasih yang bersifat ilahi dari dalam dirinya sendiri (inside out). Tidak ada paksaan ataupun kepura-puraan dalam aliran kasihnya tersebut, agar dirinya diuntungkan dengan topeng kasih yang dilakukannya.

Ayat di atas juga menyiratkan sifat kasih ilahi yang rela berkorban dengan pengorbanan diri yang amat signifikan, bukan berderajat “kaleng-kaleng” menurut bahasa gaul jaman now. Momen di mana kaisar menghunus pedangnya ke arah Wei Zi Fu diresponi dengan kesediaan Zi Fu menjatuhkan dirinya sendiri ke pedang terhunus tersebut, agar kaisar tidak digosipkan membunuh permaisurinya sendiri, melainkan permaisuri tersebut melakukan tindakan bunuh diri. Tindakan Zi Fu tersebut juga untuk mencegah kaisar membunuh staf terpercayanya yang tidak bersalah sehingga tidak meninggalkan nama buruk yang kelak bakal dipergunjingkan dan dicemooh rakyatnya.

Tindakan Zi Fu tersebut dilakukannya saat kaisar mengambil posisi memusuhinya, sehingga makin menguatkan keistimewaan sifat kasih yang bersifat ilahi tersebut. Yesus Kristus, sang inkarnasi Allah Anak yang menjadi manusia sepenuhnya dengan tanpa meninggalkan sedikitpun natur diri-Nya sebagai Allah (Flp. 2:5-7), telah mendemokan keistimewaan agape yang unconditional tersebut.

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”  [Rm. 5:10; TB LAI]

Tentu saja pengorbanan yang dilakukan Wei Zi Fu akan sia-sia bila kaisar tidak sadar dari kekeliruannya dan mempercayai bukti kasih Zi Fu kepadanya, bahwa Wei Zi Fu tidak akan pernah melakukan tindakan yang akan merugikan kaisar. Hal ini mencerminkan apa yang dinyatakan dalam ayat sebelumnya di atas, yaitu bagaimana respon dunia atas tindakan kasih Tuhan yang maha kasih, akan mempengaruhi hasil yang diterima dunia sendiri. Dengan demikian, memang agape bersifat unconditional, namun kemanfaatannya hanya akan didapatkan bila diterima dengan percaya.

Kasih Keluarga

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Tidak dapat dipungkiri bahwa kepribadian seseorang signifikan terhadap model kasihnya. Keunikan kepribadian yang mungkin saja benihnya dianugerahkan secara khusus bagi tiap individu, tetap butuh diasah dan dibentuk melalui proses perjalanan hidupnya. Keluarga merupakan komunitas inti yang pertama kali menjadi wadah bagi tiap individu untuk berinteraksi dengan dunia luar. Oleh karena itu sistem pendidikan keluarga yang dilakukan oleh orangtua (parenting) menjadi penting dalam membentuk pribadi tiap anak (lihat Ninja Warrior – faithfulONE Ministry). Keluarga yang dibangun dan dikelola dengan kasih, akan lebih mungkin menghasilkan pribadi-pribadi yang siap menjadi berkat.

Masa kecil Wei Zi Fu tidak bergelimpang dengan kekayaan, bahkan keluarganya hidup dalam kemiskinan akut, namun dipenuhi dengan kasih. Semua anak dalam keluarga Zi Fu siap untuk saling tolong secara kompak, tidak ada semangat persaingan antar saudara yang kelak akan mempengaruhi jiwa sosial mereka (lihat “RI~VAL~RY” – faithfulONE Ministry). Bahkan saudara-saudara Zi Fu memuji dan mendukung Zi Fu yang sejak kecil menonjol kepintaran, kreatifitas, ketekunan, keriangan, dan kebaikan hatinya. Relasi kasih ini meredam kemungkinan dampak buruk kemiskinan akut bagi pembentukan kepribadian Zi Fu dan saudara-saudaranya. Anak-anak tersebut, khususnya Zi Fu, jadi siap didik (teachable) dalam berbagai tipe kecerdasan manusia (lihat Holistic Quotient – faithfulONE Ministry). Bahkan kesulitan hidup yang dijalani Zi Fu telah membentuknya menjadi pribadi yang tahan banting (resilience), yang kelak akan sangat menolong memampukannya menghadapi berbagai intrik maut terhadap dirinya di istana.

Penutup

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com
Photo by cottonbro on Pexels.com

Kisah hidup Wei Zi Fu telah mengajarkan akan pentingnya pembentukan karakter baik sejak usia dini. Keluarga menjadi komunitas inti yang sangat berperan dalam pembentukan karakter baik tersebut. Apa yang dipandang sebagai nilai penting dalam keluarga, akan membentuk kepribadian tiap anak dalam keluarga tersebut. Sayangnya dunia lebih menekankan nilai materi sebagai aspek terpenting, sehingga mengabaikan aspek kasih yang sebenarnya merupakan aspek utama.

Manusia yang diciptakan menurut gambar rupa Tuhan yang maha kasih, memilih untuk menolak Tuhan yang menjadi model keberadaannya. Penolakan ini mengakibatkan rusaknya jati diri manusia, bahkan putusnya relasi baik dengan Tuhan. Hakekat Tuhan yang tidak berubah, terus memancarkan kasih bagi segenap ciptaan-Nya, terutama bagi manusia. Hakekat kasih inilah yang mendorong Tuhan untuk melakukan karya penyelamatan bagi manusia, dengan tanpa mengabaikan hakekat keadilan-Nya dan hikmat-Nya yang sempurna secara absolut. Pengutusan dan pengorbanan Anak Tunggal Allah, sang Allah Anak, yang menggantikan menanggung upah dosa manusia, merupakan bukti nyata atas kasih-Nya yang tak terbatas dan bebas kondisi tersebut. Dengan demikian, kasih merupakan aspek penting, bahkan aspek utama bagi keberadaan dan hidup manusia.

Manusia yang mengakui adanya variasi kasih ilahi (agape), sebenarnya menyiratkan kemampuan untuk mengenal dan memiliki varian kasih tersebut walau tidak berderajad seperti kasih Tuhan yang bebas batas. Agape Tuhan harus diresponi dengan percaya kepada-Nya agar manusia yang telah menolak Tuhan, sang sumber hidup dan kehidupan itu sendiri, diperdamaikan kembali dengan Tuhan dan beroleh hidup kekal bersama-Nya. Semoga Anda dan saya merespon secara benar. Terpujilah Tuhan yang maha kasih.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar