Knowing ur Calling

Pendahuluan

Photo by Anna Tarazevich on Pexels.com

Ada banyak profesi di dunia ini yang dapat dilakukan oleh tiap individu manusia. Saking banyaknya, sampai membuat pemilihan profesi bagi seseorang, khususnya kaum muda, menjadi cukup meresahkan. Pertimbangan utama biasanya adalah profesi yang bakal menjamin kesejahteraan hidupnya ke depan bersama keluarganya. Paling tidak, kebutuhan ekonomi sosialnya terpenuhi. Lebih mantap lagi bila profesinya tersebut menghasilkan kelimpahan dana sebagai jaminan masa depan anak cucunya.

Pertimbangan utama di atas acapkali menekan “hobi” personal seseorang, bilamana hobi tersebut dinilai tidak memberikan jaminan masa depan yang cemerlang seperti ukuran di atas. Orangtua akan cenderung mengarahkan anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan yang bakal membukakan karier ke profesi yang menjanjikan secara finansial tersebut. Semuanya dilakukan dengan alasan kasih kepada si anak, agar anaknya itu tidak menderita di kemudian hari.

Bila dorongan orangtua tersebut sesuai dengan hasrat si anak, tentu saja hal itu akan menjadi kesukaan yang membahagiakan bagi semua pihak, walaupun belum tentu hasilnya pasti menjamin masa depan anak tersebut cerah. Bila arahan orangtua tersebut tidak sesuai dengan hasrat si anak, sangat mungkin akan menimbulkan konflik relasi dalam keluarga yang bersangkutan. Tentunya hal ini bukan pengalaman yang diingini oleh semua orang. Tidak ada orang yang ingin memiliki keluarga yang ramai konflik bukan.

Kericuhan ini dapat makin menyesakkan bila dikaitkan dengan “panggilan Tuhan” bagi tiap individu manusia. Apa sih yang dimaksud dengan “panggilan Tuhan?” Bagaimana mengenalinya secara tepat agar tidak keliru menjalaninya, atau tidak buang waktu sia-sia karena salah pilih? Apakah hal itu hanya dimaksudkan bagi profesi sebagai “hamba Tuhan” atau mencakup profesi apapun? Tulisan ini coba mengulasnya berdasarkan iman kristiani, semoga dapat menjadi refleksi yang berguna.

Panggilan” Tuhan

Umat kristiani mengimani bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Sesuai dengan hakekat diriNya, Tuhan menciptakan semuanya “sungguh amat baik” adanya (Kej. 1:31). Perlu dipahami bahwa penilaian Tuhan tentang “baik” dapat sangat berbeda dengan penilaian manusia. Manusia yang memiliki kapasitas pengetahuan dan hikmat yang relatif terbatas, tidak akan pernah sempurna mengenali dan menguraikan tentang “baik” sesuai standard Tuhan. Bahkan manusia tidak mampu menyelami kebesaran pikiran Tuhan, maupun jalan dan rancangan Tuhan.

“Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika akum au menghitungnya, itu lebih namyak daripada pasir.”  [Mzm. 139:17-18b; TB LAI]

“Seperti tinginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  [Yes. 55:9; TB LAI]

Fakta objektif ini tidak menutup fakta bahwa Tuhan telah berkenan menyingkapkan pikiran-Nya kepada manusia dengan cara yang dapat dipahami oleh manusia, sesuai kapasitas manusia yang telah dikaruniakan Tuhan kepada manusia. Bahkan karya providensia Tuhan bukan hanya berupa karunia tersebut, melainkan mencakup pula topangan berkelanjutan-Nya, konkurensi-Nya, serta kuasa kedaulatan pemerintahan-Nya (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube).

Photo by cottonbro on Pexels.com

Salah satu pikiran Tuhan yang telah disingkapkan kepada manusia melalui wahyu-Nya adalah prinsip “panggilan-Nya.” Tuhan memanggil seseorang untuk suatu tugas yang dipercayakan-Nya kepadanya. Hakekat ketidak-berubahan (immutable) Tuhan, memastikan bahwa cara panggilan-Nya kepada Adam dan Hawa atas Mandat Budaya (Kej. 1:28), sama seperti cara Tuhan memanggil anda dan saya atas suatu tugas yang dipercayakan-Nya kepada kita secara personal. Prinsip pertama dari panggilan Tuhan adalah bahwa Tuhan selalu memberkati terlebih dulu sebelum menugaskan (Kej. 1:28).

Sebagai ciptaan-Nya, segala kapasitas diri seseorang berasal dari karunia Tuhan. Sejak awal eksistensi seseorang, Tuhan telah berkenan melimpahinya dengan berbagai benih kemampuan khusus baginya. Tentu saja dalam proses perjalanan kehidupannya, individu tersebut wajib untuk mengembangkan kemampuan diri yang dimilikinya secara bertanggung jawab. Orangtua yang dipercayakan anak tersebut, mengemban tanggung jawab untuk menolong si anak mengembangkan benih kemampuan diri itu sesuai dengan batas wajar kemampuan orangtua tersebut. Tuhan tidak pernah meminta pertanggungan jawab atas apa yang tidak dimiliki oleh seseorang. Dengan demikian ada berkat karunia Tuhan, ada bagian tanggung jawab orangtua, dan tentunya juga bagian tanggung jawab individu anak tersebut secara pribadi.

Narasi tentang talenta mengajarkan prinsip di atas. Sebagai pencipta, Tuhan tahu persis kesanggupan tiap individu. Tuhan membekali tiap individu secara unik, dan menilai pertanggungan jawab tiap individu secara proposional dan adil. Jadi pasti “semua punya,” namun tidak ada yang “punya semua.” Bagi yang diberi banyak akan dituntut banyak, sedangkan bagi yang diberi sedikit akan dituntut sedikit pula. Bagi yang secara sadar “lalai” mengembangkan kemampuan dasar yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya, pasti ada tuntutan pertanggungan jawab kelak, karena telah menolak mengerjakan tugas yang dipercayakan kepadanya sesuai talentanya tersebut.

Prinsip pertama tersebut menolong kita untuk mengenali profesi yang merupakan panggilan bagi kita secara personal. Tiap individu dapat mencermati apa saja talenta khas dirinya, dengan jalan merenungkan proses perjalanan hidupnya. Orangtua juga bertanggung jawab mencermati dan mengenali talenta unik setiap individu anaknya, serta menolong tiap anak untuk mengembangkan talenta dirinya secara individual. Kemampuan khusus tersebut pasti berkaitan dengan profesi yang menjadi tugas panggilannya.

Memang masih ada prinsip ikutannya sebagaimana tersirat dalam narasi perumpamaan tentang talenta. Sebagai manusia yang menjalani proses kehidupan ke depan, dapat saja terjadi munculnya talenta baru sebagai pengembangan talenta awal yang telah dimilikinya. Talenta baru yang dikenali tersebut, pastilah tidak lepas apalagi bertentangan dengan talenta awal. Ada kesinambungan, walaupun sekaligus ada kebedaan, antara talenta awal dengan talenta baru, misalnya pemusik yang dapat berkembang menjadi penyanyi dan/atau penari, lalu menjadi pelakon film (aktor/artis), dan sebagainya.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Alkitab yang merupakan wahyu Tuhan, menarasikan tokoh-tokoh yang memikul mandat sesuai dengan karunia talenta dirinya masing-masing. Musa yang berkesempatan memperoleh pembekalan kepemimpinan di Mesir dan keterampilan penggembalaan di Midian, ternyata memikul mandat untuk memimpin dan mengiring umat Israel dari Mesir menuju tanah Kanaan, termasuk menyusun Kitab Taurat sebagai pedoman manajemen tata kelola kehidupan sosial dan spiritual umat Israel tersebut.

Daud yang saat muda bertanggung jawab menjaga keselamatan ternak gembalaan milik ayahnya, dipersiapkan untuk memimpin dan bertanggung jawab atas keamanan bangsa Israel dari musuh-musuh Israel sekelilingnya, bahkan banyak menuliskan mazmur sebagai kidung dengan iringan musik yang mencerminkan gaya hidup para gembala saat bertugas.

Simon Petrus yang merupakan nelayan penjala ikan di danau Galilea, mengemban tugas “menjala manusia” agar menjadi umat Kristus. Saulus Paulus yang terdidik dan memiliki kewarga-negaraan Romawi, kemudian mengemban mandat mewartakan Kristus dalam teritori kekuasaan Romawi di luar tanah yahudi, sehingga banyak bersentuhan dengan kaum terpelajar. Masih banyak tokoh dalam Alkitab dengan narasi serupa.

Tiap individu yang mengembangkan talenta dirinya, pasti menerima pujian Tuhan saat akhir hidupnya. Jadi, selalu terbuka profesi baru bagi tiap individu selama proses perjalanan hidupnya, namun tentu saja profesi tersebut sesuai dengan talenta dirinya dan merupakan profesi yang diperkenan Tuhan. Tidak ada istilah “kebetulan”bagi panggilan Tuhan, pasti ada tujuan spesifik untuk tanda-tanda talenta pada setiap individu, asalkan diresponi secara tepat dan bertanggung jawab.

Hasrat Manusia

Setiap inovator profesional yang berbudi luhur, pasti berniat dan berjuang untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi dunia. Karya penemuan yang dihasilkan akan mencerminkan kapasitas dan kepribadian penemunya. Sang penemu kemudian didaulat sebagai pencipta atas produk penemuannya tersebut.

Tuhan sebagai pencipta segenap semesta, dapat dikenali keberadaan dan hakekat-Nya melalui ciptaan-Nya tersebut, walaupun tidak secara menyeluruh.

“Finitum non possit capere infinitum.” (yang terbatas tak mungkin menggapai yang tak terbatas)

Pengenalan ini memungkinkan karena Tuhan berkenan menyingkapkan diri-Nya, khususnya kepada manusia (Rm. 1:19). Sayangnya manusia lebih suka menafsirkan penyataan (wahyu) Tuhan tersebut berdasarkan pada kapasitas manusiawi semata yang terbatas, bahkan lalu tercemar pula oleh dosa pengagungan diri yang ingin menyetarakan dirinya dengan penciptanya (Kej. 3:5-6). Sejak saat itulah muncul “budaya duniawi” yang bersifat antroposentris sebagai kontra “budaya ilahi” yang bersifat teosentris.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dampak bawaannya adalah kontra axiologi (studi/wacana tentang “nilai” dan bagaimana “nilai” tersebut berkembang di masyarakat), di mana“nilai-nilai”duniawi menggantikan “nilai-nilai”ilahi. Apa yang dikejar oleh dunia, itu pula yang dikejar oleh manusia yang telah tercemar dosa tersebut. Kesuksesan dan kelimpahan materi yang mendatangkan kebanggaan diri sekaligus kepastian jaminan masa depan bagi pemiliknya, menjadi “panggilan” yang dikejar sepanjang hidup manusia. Ironinya, jaminan materi tersebut merupakan jaminan semu belaka.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” 

[Mat. 16:26; TB LAI]

“Gagal paham” yang mendunia ini menyebabkan manusia tidak lagi mampu dan mau untuk mencari “panggilan Tuhan” bagi dirinya, melalui mengenali talenta diri yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Perlu digaris-bawahi bahwa Tuhan tidak anti kelimpahan materi. Banyak tokoh dalam Alkitab yang dicatat memiliki kelimpahan materi sebagai salah satu bentuk berkat Tuhan baginya. Abraham, Yusuf, Ayub, Salomo, merupakan beberapa tokoh yang limpah materi tersebut. Masalahnya terletak pada hati manusia, apa yang menjadi hasratnya.

“apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.”  [Mzm. 62:10b; TB LAI]

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”  [Mat. 6:21, Luk. 12:34; TB LAI]

Penutup

Sebagai Imago Dei (gambar-rupa Tuhan), manusia berkapasitas kehendak bebas yang asli (genuine), itu merupakan anugerah Tuhan baginya. Sayangnya manusia salfok sehingga menghendaki yang “salah” bagi dirinya, dan berujung pada maut.

“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”  [Ams. 14:12; TB LAI]

Hasrat yang salah tersebut telah membutakan mata batin manusia, sehingga tidak mengenali panggilan mandat Tuhan yang sebenarnya tersirat dalam talenta diri yang dikaruniakan Tuhan baginya. Selain itu, values duniawi yang kontra dengan values ilahi, membuat manusia yang telah tercemar dosa makin gagap dalam mengenal dan mewujudkan panggilan itu, serta makin jauh dari tujuan keberadaannya di dunia ini.

Katekismus Westminster dapat menjadi petunjuk atas tujuan keberadaan manusia yang merupakan mahkota ciptaan Tuhan. Topik ini dirasakan sebagai topik yang paling mendasar bagi manusia, sehingga dicantumkan sebagai topik pertama.

Q.1. What is the chief and highest end of man?

A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to enjoy Him forever.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-rupa-Nya agar dapat membina relasi indah dengan manusia. Relasi indah inilah yang mengalirkan anugerah “2 in 1” bagi manusia. Anugerah tersebut adalah kesempatan untuk menikmati segala kebaikan Tuhan, sekaligus kesempatan untuk merefleksikan kemuliaan Tuhan. Salah satu bentuk kebaikan Tuhan adalah segala talenta baik yang dikaruniakan-Nya serta panggilan-Nya bagi tiap individu. Kesempatan merefleksikan kemuliaan Tuhan dapat diwujudkan melalui respon tepat dan bertanggung jawab atas panggilan tersebut, sesuai dengan talenta awal dan pengembangannya.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” [Yer. 29:11; TB LAI]

Semoga kita semua terus bertekun mengasah dan mengembangkan talenta diri yang menjadi modal bagi kehidupan profesional kita. Semoga Tuhan menolong kita semua agar tidak sesat jalan dalam menemukan profesi panggilan kita. Terpujilah Tuhan.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar