Pendahuluan
“Satu fakta, beragam makna” mungkin merupakan frasa yang cukup tepat menggambarkan tentang istilah post-truth.Istilah ini cukup marak beredar di jaman kini, berkenaan dengan keadaan di mana opini publik lebih dibangun berdasarkan emosi ataupun keyakinan pribadi seseorang. Boleh dikatakan bahwa kenyataan-kenyataan objektif menjadi kurang greget pengaruhnya dalam membentuk opini publik tersebut.

Sifat yang menjiwai post-truth ini telah membuka peluang bagi para “pengolah kisah” untuk menggoreng suatu peristiwa sedemikian rupa guna menggiring opini publik agar sesuai dengan agenda yang hendak mereka raih. Bila aksi mereka berhasil maka publik tidak lagi peduli akan fakta objektif peristiwa yang bersangkutan. Publik akan menjadi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dan menyanyikan lagu sama yang diaransir oleh pengolah kisah tersebut. Makin ramai peserta paduan suaranya, makin reduplah fakta objektifnya.
Teknologi komunikasi yang makin canggih, cepat dan makin luas jangkauannya di era kini, menyebabkan setiap orang, sadar maupun tidak, dapat berkesempatan untuk menjadi pengolah kisah. Fakta objektif makin sulit dikenali, makin marak berseliweran hoax secara masif bagai tsunami. Bila demikian, apakah kebenaran (truth) sudah tidak punya tempat lagi untuk berdiri? Bagaimana dengan nilai moral tentang “yang baik atau yang jahat” bagi suatu peristiwa, atau bahkan bagi pelaku peristiwa tersebut? Bagaimana seharusnya umat kristiani menyikapinya secara bertanggung jawab?
Xiao Ao Jiang Hu [笑傲江湖 ]
Novelis Jin Yong [金庸] membuat satu novel bergenre “cerita silat” [wuxia 武侠] yang awalnya diterbitkan secara berseri pada suratkabar Ming Pao di Hongkong sejak tanggal 20 April 1967 hingga tanggal 12 Oktober 1969. Novel ini kemudian dijadikan film seri tv dalam berbagai tahun pembuatan dengan berbagai judul serial. Ada juga yang memproduksinya menjadi film bioskop. Xiao Ao Jiang Hu secara harfiah berarti “tertawa bangga di dunia persilatan” seolah “hidup tanpa beban di dunia persilatan.”

Secara garis besar, novel ini menceritakan pergulatan dunia persilatan antara partai-partai silat yang “baik” melawan partai silat yang “jahat.” Permusuhan kedua kelompok partai silat ini berlangsung sengit, memakan banyak korban jiwa dan merembet hingga generasi berikut.
Xiao Ao Jiang Hu sendiri merupakan notasi lagu ciptaan dua orang tokoh persilatan yang bersahabat sehidup semati, walaupun masing-masing berasal dari kelompok partai silat yang saling bermusuhan tersebut. Menariknya, kisahnya seolah cermin yang dapat dipakai untuk merefleksikan keadaan diri sendiri.
Ragam karakter tokoh-tokohnya digambarkan mulai dari pribadi sederhana yang “apa adanya” hingga pribadi munafik yang bertopeng tebal sampai menipu keluarganya sendiri, bahkan menipu dirinya sendiri dengan melakukan “penyangkalan” sebagai manifestasi kepribadiannya. Kompleksitas pribadi-pribadi yang menjadi tokoh-tokoh dalam cerita silat tersebut, sekaligus memperlihatkan ketidak-mampuan manusia untuk menjadi penentu nilai “baik-jahat” secara absolut. Bukankah pada hakekatnya, natur kapasitas manusia itu sendiri bersifat partikuler-relatif yang terkungkung secara spatial-temporal?
Sebagai makhluk yang “berjalan” dalam dimensi waktu kronos, manusia pastilah, mau tidak mau, menjalani proses pengalaman hidup yang berjalan ke depan. Proses perjalanan hidup ini sekaligus akan menegaskan keterbatasan pengetahuan manusia atas “fakta-fakta” di luar dirinya. Keterbatasan ini mengakibatkan manusia tidak dalam posisi untuk mampu menilai fakta secara objektif. “Fakta objektif” (noumena) akan dilihat dan diresponi oleh tiap individu sebagai “fakta subjektif” (fenomena) sesuai dengan wawasan dunianya.
Dengan demikian, manusia pada hakekatnya tidak akan pernah berposisi sebagai penentu ukuran moral secara absolut. Manusia tidak memiliki kapasitas berpengetahuan absolut akan apa yang baik dan apa yang jahat. Tidak berarti bahwa manusia tidak berkemampuan untuk menilai apa yang baik ataupun apa yang jahat, namun penilaiannya selalu akan bersifat relatif mengikuti standard moral dari Tuhan, sang pemberi hukum absolut tersebut.
Hoax Terbesar
Tuhan yang sepenuhnya bebas batas, tidak perlu mengalami proses apapun. Pengetahuan Tuhan bersifat menyeluruh, lengkap, berasal dari dalam diriNya sendiri, dan sempurna, baik berupa segala kemungkinan maupun segala fakta. Kesempurnaan absolut natur diriNya menyebabkan Tuhan tidak mungkin salah, baik salah perhitungan maupun salah bertindak.
Saat Tuhan memutuskan untuk menciptakan manusia seturut gambar rupaNya sehingga menjadi mahkota ciptaanNya yang diberkatiNya dan dipercayakan kuasa untuk menatalayan seluruh ciptaanNya, keputusan dan tindakan Tuhan itu tidak mengandung kesalahan. Natur diri Tuhan yang adalah kasih (1 Yoh. 4:8b) telah melandasi karya penciptaanNya, khususnya terhadap manusia. Kasih Tuhan ini bukanlah kepura-puraan, melainkan kasih sejati sesuai dengan natur diriNya sendiri (1 Yoh. 1:5).
“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” [1 Yoh. 1:5; TB LAI]
Orangtua yang mengasihi anaknya akan melarang anaknya yang masih sangat belia, berusia di bawah 8 tahun, untuk mengendarai sendiri sepeda motor di jalan raya. Larangan tersebut diberikan demi keselamatan dan kebaikan sang anak sendiri. Mungkin saja orangtua tidak memberi penjelasan alasannya secara rinci, karena sang anak belum memiliki cukup kapasitas untuk memahami penjelasan tersebut dengan benar. Sang anak hanya perlu percaya kepada orangtuanya dan mentaati larangan tersebut demi kebaikannya sendiri.
Apa yang dilakukan oleh Iblis di Taman Eden (Kej. 3) adalah menebar hoax bahwa Tuhan tidak mengasihi manusia dengan melarang manusia makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sebagai pencipta manusia, tentunya Tuhan mengetahui secara persis akan batasan kapasitas manusia yang terbatas oleh berbagai dimensi ciptaan di luar dirinya. Manusia butuh proses untuk meningkatkan pengetahuannya. Tuhan yang telah mengaruniakan kapasitas dasar pengetahuan dalam diri manusia (innate knowledge) berkenan membimbing manusia agar mengembangkan pengetahuannya (acquire knowledge) melalui proses didikanNya.
Bukan hanya pengetahuan intelektual, manusia juga dibimbing untuk mengembangkan pengetahuan moral dan spiritual bersama Tuhan, agar manusia makin mampu menatalayani ciptaan Tuhan sesuai standardNya. Tuhan pasti memenuhi apapun kebutuhan manusia tepat pada waktunya. Hal ini terbukti saat Tuhan memberikan Hawa sebagai penolong yang sepadan bagi Adam, setelah melewati satu proses dan momen tertentu yang tepat bagi Adam sendiri (Kej. 2:18-23).
Sayangnya Adam dan Hawa menelan hoax Iblis tersebut karena berhasrat untuk memuaskan keinginannya akan kuasa dan kedaulatan bagi dirinya sendiri, lepas dari bimbingan dan batasan Tuhan, serta menolak fakta bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengasihinya. Terbukti bahwa nafsu manusia untuk menjadi penentu apa yang baik dan apa yang jahat, hanya membuahkan kejahatan semata-mata (Kej. 6:5). Orangtua yang kesal dan berduka melihat kejahatan anak yang dikasihinya, mencerminkan perasaan Tuhan atas kejahatan manusia itu.
“maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya.” [Kej. 6:6; TB LAI]
Sekalipun demikian, natur kasih Tuhan tidak pernah berubah, sehingga Tuhan berkenan mengutus Anak TunggalNya menjadi penebus manusia, agar manusia yang percaya kepada Anak TunggalNya tersebut boleh beroleh hidup kekal bersamaNya (Yoh. 3:16). Sesuai dengan iman kristiani, Tuhan telah merancangkan “perjanjian keselamatan” (pactum salutis) dalam kekekalan, di mana Allah Anak berinkarnasi menjadi manusia seutuhnya tanpa meniadakan ke-Allah-anNya sedikitpun, agar inkarnasi Allah Anak tersebut menjadi korban tebusan menggantikan manusia yang dikasihaniNya (Ibr. 2:14-16).
“Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.” [Ibr. 2:16; TB LAI]
Penutup
Keterbatasan manusia yang merupakan konsekuensi wajar dari keberadaannya sebagai ciptaan, telah dipandang sebagai suatu keadaan yang tidak baik. Manusia ingin untuk hidup bebas memuaskan hasrat dirinya semaksimal mungkin. Kebebasan memuaskan nafsu diri inilah yang terus menerus dikejar melalui berebut kekuasaan, sebagaimana yang terjadi antara suami isteri dalam institusi keluarga yang telah dirusak oleh dosa pemberontakan Adam dan Hawa di Taman Eden (Kej. 3:16).
Raja Salomo pernah menjalani gaya hidup penuh hedonis saat dirinya berkuasa sebagai maharaja kerajaan Israel kuno. Hal ini dituangkannya dalam kitab Pengkhotbah. Memang Salomo memiliki kuasa dan kemampuan untuk menjalankan hidup hedonis tersebut, namun pada akhirnya Salomo tiba pada satu fakta bahwa Tuhan sajalah yang berhak sepenuhnya untuk menjadi penentu atas apa yang baik dan apa yang jahat. Hidup manusia yang selaras dengan perintah-perintah Tuhan itulah yang merupakan kehidupan berhikmat. Sebaliknya kehidupan yang lepas kendali dari perintah-perintah Tuhan merupakan kesia-siaan belaka.
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” [Pkh. 12:13-14; TB LAI]
Fakta kehidupan memang tidak lepas dari penderitaan, pergumulan, dan hal-hal yang tidak nyaman bagi manusia. Fakta ini tidak meniadakan fakta kasih Tuhan kepada manusia. Kebenaran ini merupakan fakta objektif yang tidak sepantasnya disikapi dengan semangat post-truth. Bila kita mampu memegang teguh (beriman) atas fakta objektif akan kasih Tuhan yang unconditional tersebut, maka kita dapat memiliki landasan teguh dalam menghadapi pergumulan hidup. Terpujilah TUHAN, kini dan selama-lamanya.
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” [Rm. 8:35,39; TB LAI]
“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” [Ef. 3:18; TB LAI]
