Theo/anthropocentric (Free) Will

Secara umum ada dua posisi utama dari wawasan dunia yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan (teosentris) atau menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan (antroposentris). Tiap posisi akan menentukan bagaimana seseorang mempertimbangkan apa pilihan yang akan diambilnya. Pertimbangan bersifat antroposentris hanya akan menghasilkan kekacauan karena setiap manusia akan menonjolkan kepentingan dirinya sendiri. Pertimbangan bersifat teosentris mensyaratkan sikap “percaya dan taat” (trust and obey) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan individu manusia yang bersangkutan terhadap kuasa dosa.

St. Agustinus sebagai uskup Hippo di tahun 396-430 (sekarang adalah Anaba, Algeria), telah merenungkan adanya empat keadaan manusia sepanjang sejarah manusia, yaitu:

  1. Posse non Peccare, Posse Peccare (mungkin dapat tak berdosa, mungkin berdosa)
  2. non Posse non Peccare (tak mungkin tak berdosa)
  3. Posse Peccare, Posse non Peccare (mungkin berdosa, mungkin dapat tak berdosa)
  4. Non Posse Peccare (tak mungkin berdosa)

Keadaan 1. berbeda dengan keadaan 3. dari kondisi awal manusia. Saat manusia belum jatuh dalam dosa maka kondisinya digambarkan sebagai keadaan 1. Saat manusia berdosa telah percaya kepada Juruselamat dan bertobat maka kondisinya digambarkan sebagai keadaan 3. Keadaan 2. merupakan gambaran kondisi orang berdosa sebelum percaya dan bertobat (lihat Kej. 6:5), dengan tetap memperhatikan adanya anugerah umum Tuhan bagi manusia dengan mengekang dosa dan dampak merusaknya (lihat Dosa 8 Menahan Kejahatan Anugerah Umum Dan Budaya Dalam Dunia Berdosa – YouTube). Saat ciptaan sepenuhnya dibarui (Why. 21-22:5), maka keadaan 4. dapat terwujud oleh anugerah Tuhan.

Manusia yang memilih sesuai sikon dan keadaan dirinya, tetap berada dalam providensia Tuhan yang menopang segala sesuatu secara berkelanjutan dalam kronos dengan KuasaNya (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube). Sebagai pencipta segenap semesta, Tuhan berkuasa dan berdaulat sepenuhnya atas ciptaanNya. Jadi tidak ada apapun yang dapat terjadi tanpa seijin Tuhan. Pilihan manusia yang dilakukan dalam kapasitasnya sebagai manusia, merupakan pilihan bebas manusia dari berbagai pilihan yang dihadapinya saat itu sehingga bersifat relatif. Mungkin saja ada sikon tertentu yang membatasi pilihannya, namun keputusan untuk melakukan ataupun tidak melakukan suatu aksi tertentu pada saat itu, merupakan keputusan pilihan bebas individu manusia yang bersangkutan.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Kenyataan bahwa tidak ada apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Tuhan yang maha berdaulat, tidak menihilkan kehendak bebas manusia dalam memilih.

Tuhan tidak pernah mengubah, apalagi mencabut keputusanNya untuk menjadikan manusia seturut gambar rupaNya. Keputusan tersebut salah satunya berdampak pada kapasitas manusia yang memiliki kehendak bebas. Tuhan juga tidak secara serta merta mengubah keadaan individu manusia terhadap kuasa dosa, karena hal itu pastilah akan bertentangan dengan hakekatNya yang maha kudus, maha benar, dan maha adil. Jadi kedua aspek kedaulatan Tuhan dan kebebasan relatif manusia dalam memilih, lebih logis dipahami sebagai suatu keselarasan (compatible) antar kedua aspek tersebut.

Keadaan manusia yang telah digambarkan oleh St. Agustinus, memang pasti melandasi pusat keberadaan individu yang bersangkutan, apakah berpusatkan Tuhan ataukah manusia. Bila manusia yang menjadi pusat kehidupannya, maka segala kecondongan hatinya tidak akan dapat diperkenan oleh Tuhan. Pilihan “sesat” individu yang terbelenggu dosa itu akan melahirkan tindakan “jahat” semata, baik berupa pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Anehnya, Tuhan tetap dapat mengijinkan realisasi tindakan tersebut, sehingga tindakan manusia tidak secara otomatis pasti sesuai dengan keinginan Tuhan.

Dosa yang dilakukan manusia tidak mungkin merupakan keinginan Tuhan yang maha kudus dan maha benar, walaupun terwujud lewat ijin Tuhan. Ketetapan Tuhan yang utuh sempurna secara kekal, mengandung berbagai “bagian” misteri yang melampaui keterjangkauan kapasitas terbatas manusia dalam kronos. Ketidakpahaman akan Tuhan secara menyeluruh, tidak meniadakan tanggung jawab manusia atas segala tindakannya sebagai hasil compatible free will-nya.

Adam Pertama dan Adam Kedua

Alkitab menarasikan Adam sebagai manusia ciptaan pertama yang menjadi Bapak Leluhur semua manusia. Adam dan Hawa disebut dalam Alkitab diciptakan Tuhan menurut gambar rupaNya. Dengan demikian Adam dan Hawa memiliki kapasitas free will yang genuine. Bila semula Adam dan Hawa dalam keadaan tidak berdosa, kapasitas genuine free will-nya meyebabkan mereka dapat menjadi berdosa karena salah pilih, sehingga kondisinya seperti yang disebutkan dalam keadaan 1. oleh St. Agustinus.

Walaupun awalnya Hawa diprovokasi “ular” untuk melanggar larangan Tuhan, namun tindakannya memakan buah larangan tersebut didorong oleh keinginan hatinya sendiri yang tertarik untuk memperoleh pengertian dari ciptaan, bukan lagi dari Pencipta (Kej. 3:6). Adam yang bersama-sama dengan Hawa, malah turut melanggar larangan tersebut (Kej. 3:6), walaupun sebelumnya Tuhan telah memperingatkan Adam secara tegas (Kej. 2:17).

Tindakan Adam dan Hawa saat itu merupakan hasil dari free will-nya, walaupun semuanya compatible dengan ketetapan kekal Tuhan. Oleh sebab itu, mereka khususnya Adam, ditegur Tuhan dan menerima konsekuensi pelanggarannya sebagai manifestasi pemberontakannya. Adam melandaskan pertimbangannya dengan semangat antroposentik.

Yesus Kristus sebagai Adam kedua, menggunakan free will-nya untuk memilih taat kepada kehendak Allah Bapa (Mat. 26:42) yang mengutus diriNya menjadi korban penebus dosa manusia (Yoh. 3:16-17). Yesus Kristus melandaskan pertimbangannya dengan semangat teosentrik.

Prasyarat penting untuk mampu menerapkan ketaatan adalah kerendahan hati, sebagaimana yang telah didemokan oleh Yesus Kristus sebagai inkarnasi Allah Putera menjadi manusia (Flp. 2:5-8). Kerendahan hati bukan merupakan natur manusia berdosa, sehingga harus dilatih sesuai prasyarat sebagai murid Kristus yang meneladaniNya.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

[Mat. 16:24; TB LAI]

Penutup

Pilihan menjadikan manusia atau Tuhan sebagai pusat hidup seseorang, akan mengarahkan kehendaknya secara relatif bebas pada tindakan tertentu. Walaupun tidak ada yang dapat terjadi tanpa seijin Tuhan yang maha kuasa dan maha berdaulat, namun kapasitas kehendak bebas manusia sebagai Imago Dei tidak pernah ditiadakan, sekalipun oleh keberdosaan manusia. Diri Tuhan yang bebas batasan memastikan ketetapanNya tidak berubah, namun tetap dapat merupakan misteri bagi manusia yang terbatas.

Manusia yang berproses mengikuti kronos, harus dengan rendah hati belajar untuk percaya dan taat pada kehendak Tuhan. Dengan demikian manusia menerapkan free will-nya secara compatible dengan kehendak Tuhan. Tidak semua momen merupakan pengalaman menyenangkan bagi manusia. Kenyataan ini jangan pernah menimbulkan keraguan akan hakekat kebaikan Tuhan yang tidak pernah gagal dalam rancanganNya, sebaliknya tindakan syukur merupakan wujud ungkapan layak atas providensia-Nya, khususnya saat kita lemah.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

[1 Kor. 12:9; TB LAI]

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

[Rm. 8:28; TB LAI]

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

Tinggalkan komentar