Pendahuluan
Sepanjang hidup seseorang, dirinya berhadapan dengan berbagai pilihan. Mulai sejak bangun tidur hingga kembali masuk peraduan, selalu ada pilihan yang dihadapinya.

Kadang pilihan tersebut dengan mudah diputuskan, misalnya memilih pakaian yang akan dikenakan hari itu. Namun kadang pilihan yang dihadapi tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan dalam memutuskannya.
Hal-hal serius yang akan berdampak panjang, misalnya menentukan jodoh, karier, pengobatan penyakit menahun, tidak selalu mudah memutuskan mana pilihan yang akan dipilih.
Sebagai manusia yang menjalani kehidupan sebagai suatu proses berkelanjutan, mungkin juga sebenarnya seseorang hanya melakukan aksi sebagai kelanjutan alami dari peristiwa sebelumnya. Jadi seolah suatu proses otomatis yang tidak memerlukan pemilihan lagi, suatu rutinitas belaka. Bisa juga pilihan yang dihadapi tidak ada satupun yang nyaman, namun tidak selalu dapat dihindari sehingga dengan terpaksa seseorang harus memilih dari antara pilihan yang ada tersebut. Terutama bila yang dihadapi adalah pihak lain yang berotoritas di atas kita, rasanya tidak ada pilihan selain mengikuti keputusan pihak tersebut.

Situasi kondisi tidak normal, misalnya sedang mengalami peperangan, makin mempersempit kesempatan memilih. Bila demikian kejadiannya, apakah logis apabila seseorang harus siap memberi pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukannya karena itu merupakan pilihannya.
Sebenarnya apa sih dasar pendorong seseorang “memilih” hingga memunculkan suatu aksi tertentu, apakah cukup bila dikatakan “kepentingan” yang menjadi dasarnya. Jangan-jangan tidak sesederhana itu. Jangan-jangan ada serangkaian persepsi yang diyakininya dan menjadi motor utama penggerak seseorang mengambil pilihan tertentu. Bila sebelumnya seseorang telah mengalami pergumulan tertentu, apakah semangat dasar yang menjadi landasan pilihan bagi keputusannya atas pergumulan tersebut.
Berbagai pergumulan di atas memunculkan perenungan, apakah manusia sebenarnya melakukan pemilihan secara bebas sesuai keinginannya (free will), ataukah sebenarnya pada dasarnya “dipaksa” oleh satu tangan tak kasat mata (invicible hand) untuk melakukannya. Bila dikatakan sebagai pilihan bebas, seberapa bebasnya dan bagaimana mengkaitkannya dengan “tangan ghoib” bila itu ada.
Tulisan ini coba merenungkannya secara kristiani dan akan menggunakan buku terbitan Blackwell Publishing, Australia: “Four Views on Free Will” dan karya Jonathan Edwards, Freedom of the Will, CCEL (Christian Classics Ethereal Library), sebagai sumber literaturnya. Juga buku “Four Views: Divine Foreknowledge” serta buku “Four Views: God & Time,” terbitan InterVarsity Press, Illinois USA sebagai pelengkapnya, di samping sumber lainnya. Semoga renungan ini dapat menjadi berkat dan mempermuliakan Tuhan yang maha kuasa.
Kehendak Manusia & Hakekat Allah
Sudah selayaknya murid Kristus “mendengarkan” pengajaran yang lebih mendalam agar memahami prinsip iman kristiani, dibandingkan dengan kelompok “orang banyak.”
“Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.”
[Mat. 13:10-11,13; TB LAI]
Iman kristiani menerima penyataan (wahyu) Allah bahwa manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar rupa Allah (Kej. 1:26-27). Ketetapan Allah tersebut bersifat kekal sesuai dengan hakekatNya yang kekal (eternal) dan tak berubah (immutable). Sekalipun manusia sudah tercemar dan rusak oleh dosa, manusia tetaplah merupakan ciptaan menurut gambar Allah (Kej. 9:6).
Sebagai pencipta segala sesuatu sesuai iman kristiani, tidak ada apapun yang ada sebelum diciptakan oleh Allah (prinsip creatio ex nihilo: penciptaan dari ketiadaan). Jadi dimensi apapun, termasuk dimensi waktu dan ruang, baru ada setelah diciptakan Allah. Dengan demikian Allah melampaui dan tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Hakekat Allah yang demikian menegaskan sifat transendensiNya (berbeda dan melampaui ciptaan).
Sifat transendensi Allah berarti salah satunya bahwa Allah bukanlah keberadaan fisik seperti ciptaan materi yang berbatas dimensi ruang. Allah tidak dibatasi ruang, setiap titik dalam ruang itu secara langsung terakses olehNya sepenuhnya. Sederhananya hakekat Allah ini disebut sebagai kemaha-hadiran Allah. Hakekat ini tidak berarti bahwa Allah “mengembang” memenuhi semesta fisik (seperti Kapten Mlar dalam Fantastic-4), ataupun bahwa Allah seutuhnya tinggal pada setiap titik di semesta fisik sehingga mengingkari keesaanNya yang absolut.
Hakekat ini melampaui akal pikir manusia yang berbatas ruang dan di dalam ruang. Mungkin lebih baik dikatakan bahwa Allah tidak berbatas ruang namun sekaligus memiliki akses langsung ke tiap titik dalam ruang. Hal ini sesuai dengan prinsip iman kristiani tentang creatio ex nihilo, bahwa Allah tidak berada di luar ruang karena tidak ada “ruang” sebelum dicipta. Bila dikatakan bahwa Allah berada di luar ruang, maka seolah ada “ruang Allah” di luar “ruang ciptaan,” sehingga berdampak seolah ada batas ruang bagi Allah.
Ketentuan di atas berlaku pula bagi dimensi waktu. Allah ada dari segala kekal (Mzm. 93:2), tidak memiliki awal maupun akhir di dimensi waktu (Alfa dan Omega; Why. 1:8, 21:6, 22:13). Keberadaan Allah itu keberadaan tanpa waktu (without time), melampaui konsep timeless, karena tidak berarti seolah ada satu titik di waktu (time) di mana Allah itu timeless. Jadi, merupakan keberadaan yang “bebas merdeka” (independent) dari waktu, sekaligus yang “membawa” waktu menjadi ada (into being).
Sebagaimana Allah tidak berbatas ruang namun sekaligus memiliki akses langsung ke tiap titik dalam ruang, maka Allah “bebas waktu” (atemporal) namun sekaligus mengalami semua peristiwa dalam waktu secara seketika yang bersifat “kekal-sekarang” (eternal now). Pengalaman Allah atas waktu bukan merupakan proses berurutan, sehingga tidak berproses terhadap waktu seperti “temporally everlasting” yang dimaknai sebagai “exist AT all times and THROUGH all times.” Di samping itu, relasi Allah atas setiap titik waktu itu sama dengan relasiNya atas titik waktu lain yang manapun. Hakekat Allah ini jelas melampaui kapasitas pemahaman manusia yang berproses dalam ruang dan waktu (spacial & temporal).
Relasi Allah dengan manusia yang sejati (genuine) memunculkan konsep “waktu ciptaan” (kronos) yang berlangsung dalam proses berurutan secara numerikal (“dulu” – “sekarang” – “kelak”). Kronos ini berbeda secara absolut dengan “waktu Tuhan” (kairos) yang tidak dicipta dan bebas proses. Kairos ini menjadi alat bantu untuk memahami bagaimana Tuhan yang “bebas waktu” (atemporal) mengakomodasi keterbatasan manusia yang berproses dalam batasan “waktu-ruang” saat membangun relasi sejati (genuine) secara “kekal sekarang” (eternal now) di “waktu ciptaan” (kronos).
Misalnya bagaimana Tuhan meresponi doa-doa yang dipanjatkan seseorang saat dirinya sebagai anak-anak, lalu saat dirinya berada di usia dewasa dengan pergumulan karier dan jodohnya, maupun saat dirinya telah lanjut usia dengan pergumulan kesehatan jasmaninya dan kesejahteraan anak-cucunya. Tuhan yang atemporal tetap berelasi dan berespon mengikuti proses pertumbuhan manusia secara kronos pada waktuNya (kairos), dengan tanpa mengalami perubahan apapun secara absolut pada keberadaan diriNya. Jadi kairos selalu eternal now bagi Tuhan, namun menjadi titik temu dalam suatu titik kronos sesuai dengan kemisteriusan kehendak kekalNya.
Dengan demikian, manusia dalam kronos memiliki kesempatan memilih walaupun sifatnya relatif, dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dirinya sendiri maupun di luar dirinya. Sebagai gambar rupa Allah, manusia dibekali dengan kehendak bebas (free will). Sesuai dengan keberadaannya yang terbatas, free will manusia tidak bersifat absolut melainkan bersifat relatif. Ada berbagai batasan, misalnya realita sikon (situasi kondisi) lingkungan, yang mengendalikan free will manusia. Walaupun demikian, manusia tetap dapat memilih secara bebas sesuai dengan keberadaan dirinya saat itu.
Apapun pilihan manusia dalam kronos, tidak terlepas dari pengetahuan Tuhan. Tuhan yang bebas batas tentu juga berpengetahuan tak terbatas. PengetahuanNya ini meliputi semua “kemungkinan” maupun semua “fakta nyata.” Pengetahuan Tuhan ada didalam diriNya sendiri secara utuh, lengkap, sempurna, dan seketika (tanpa proses). Hal ini tercermin dalam istilah “maha tahu” bagi hakekat intelektual Tuhan (lihat Allah 4 – Hakekat Communicable Allah – YouTube).
Dapat dikatakan pertimbangan dalam memilih bukan semata ditentukan oleh sikon di luar dirinya yang tak dapat dihindarinya, malahan wawasan dunianya yang menjadi pendorong utama pertimbangannya. Wawasan dunia (worldview) ini dimiliki oleh setiap orang dan menjadi landasan yang membentuk penilaian seseorang akan realita dunia yang dihadapinya (lihat WD 1-Definisi, Nesisitas, Elemen Wawasan Dunia – YouTube).
Lanjut ke halaman 2

Terima kasih buat bukunya yang baik.👍
SukaSuka
Puji TYK, semoga dapat menjadi berkat bagi kemuliaanNya🙏
SukaSuka