CHEF [ʃɛf]

Photo by ArtHouse Studio on Pexels.com

Pendahuluan

Makanan merupakan salah satu kebutuhan paling dasar bagi manusia untuk hidup. Tubuh manusia butuh nutrisi untuk diproses menjadi energi bagi pertumbuhan, kesehatan, aktifitas dirinya. Makanan menjadi asupan nutrisi yang penting bagi tubuh manusia tersebut. Peran koki/jurutama masak (chef) yang mengolah bahan pangan mentah menjadi makanan siap saji, tentu saja sangat penting. Pameo “Lain koki, lain masakannya” menegaskannya.

Secara umum kita dapat membedakannya sebagai “koki amatir” dan “koki profesional.” Koki amatir biasanya adalah orang-orang yang mengolah hingga menyajikan makanan bagi keluarga/koleganya tanpa dibayar. Bisa saja koki amatir tersebut melakukannya karena terkondisi oleh sikon tertentu, misal adanya kewajiban menyajikan makanan sebagai bagian tanggungjawabnya dalam keluarga/komunitas dekatnya. Namun bisa juga tugas tersebut dikerjakannya karena gairahnya pada aktifitas masak memasak. Dapat dipastikan capaian kedua latar belakang tersebut akan berbeda, dan koki amatir yang cinta masak memasaklah yang lebih unggul.

Koki profesional biasanya berprofesi di restoran/tempat makan dengan dibayar untuk mengolah hingga menyajikan makanan bagi pelanggan yang membayar makanan yang disantapnya di tempat makan itu. Aspek ekonomi menjadi pertimbangan utama. Sebagai profesi yang dibayar, tentu saja koki profesional tersebut harus memiliki suatu kemampuan tertentu yang mungkin diperolehnya melalui suatu pendidikan berbayar.

Saat ini marak berbagai acara yang melombakan kemampuan masak memasak tersebut, misalnya acara MasterChef yang diselenggarakan di berbagai negara. Acara tersebut dapat menjadi sarana untuk menjadi koki profesional dengan tanpa perlu ikut pendidikan kuliner berbayar, sebab peserta potensial dapat menarik perhatian pemilik resto tertentu untuk mengundangnya sebagai jurutama masak profesional di tempatnya. Bahkan, alumni acara tersebut dapat membangun profesi sebagai jurutama masak profesional dengan membuka restonya sendiri. Menarik bukan….

MasterChef

Photo by Elle Hughes on Pexels.com

Ada banyak tayangan acara masak memasak saat ini, dan MasterChef merupakan salah satu, bahkan mungkin yang paling populer. Pesertanya merupakan orang-orang dari beragam profesi, daerah asal, rentang usia tertentu (kategori dewasa atau anak-anak), dsb. Para peserta tersebut secara terbatas dipilih dari sekian banyak calon peserta yang mendaftar. Pemilihannya melalui lomba masak yang diuji oleh beberapa profesional jurutama masak mumpuni. Pengujinya juga akan menjadi juri dari acara MasterChef sesi terkait.

Photo by August de Richelieu on Pexels.com

Ada satu ciri bersama di balik keragaman pesertanya. Semua peserta tersebut merupakan orang-orang yang cinta aktifitas masak memasak. Biasanya aktifitas tersebut dilakukan bagi kerabat/anggota keluarga masing-masing yang mereka cintai. Bahkan ada yang merupakan penerus generasi sebelumnya (orangtua, nenek/kakek, dsb), yang menularkan kecintaan masak memasak kepada mereka. Kecintaan tersebut dibangun dari ketertarikan sejak usia anak-anak, saat “orangtua” mengolah makanan bagi keluarganya. Tidak ada pemaksaan, sebaliknya ada banyak cinta. Bagi saya, inilah yang paling menarik dari acara MasterChef.

Pernah ada masa-masa di mana saya lebih menghargai dan menyukai masakan rumah dibandingkan masakan resto. Saya menilai ada beda bumbu dalam kedua jenis masakan tersebut. Bagi saya, masakan resto menggunakan “bumbu komersial,” sedangkan masakan rumah menggunakan “bumbu kasih.” Pengalaman masa kecil saya yang menikmati sajian masakan sehari-hari oleh ibu, membentuk wawasan tersebut. Tayangan sejenis MasterChef telah memberikan wawasan baru bagi saya. Di mana pun masakan itu diolah, “bumbu kasih” tetap ada pada masakan tersebut bila jurutama masak mengolahnya berdasarkan cinta pada masakan tersebut. Wajarlah bila olahan masakan resto ada pertimbangan ekonominya.

Manifestasi cinta masak memasak juga terlihat pada kerelaan berbagi resep masakan antar peserta. Bahkan juri dan berbagai jurutama masak profesional mumpuni yang diundang pada acara MasterChef, juga rela berbagi resep masakan kepada peserta. Sebenarnya ada banyak tayangan “gratis” acara masak memasak lain yang juga berbagi resep masakan bagi para pencinta olah masakan. Teknologi digital yang telah maju di tengah pandemi covid-19 saat ini, mendukung maraknya model acara tersebut lewat berbagai platform digital. Semangat berbagi ini melampaui semangat bersaing. Bukan kemenangan semata yang menjadi fokus, melainkan pengembangan kemampuan olah masakan yang menjadi kecintaannya itulah yang lebih bernilai. Dapur MasterChef bukan hanya milik para juri, melainkan milik para juri dan semua peserta, agar tersaji masakan istimewa yang luar biasa dalam penyajian dan rasa.

Dapat dilihat bahwa tim acara telah menyusun dengan cermat acara lomba, sehingga para peserta dikondisikan untuk terus menerus mengoptimalkan kemampuan olah masaknya hingga melampaui batas nyaman dirinya. Jenis tantangan lomba yang diberikan mulai dari menyajikan masakan canggih (sophisticate) yang sarat dengan teknik tinggi proses pengolahannya, hingga mengolah masakan dengan alat masak yang dibatasi sebagaimana terdapat di dapur rumah, atau mengolah masakan dengan menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah dan umum didapatkan di lingkungan kehidupan masyarakat umum sehari-hari. Kreatifitas dan keterampilan olah masakan menjadi penting, tanpa mengabaikan rasa hasil olahan yang seimbang, lezat, bertekstur, dan matang sempurna. Bila tiada gairah cinta masak memasak, dapat dipastikan peserta tersebut gugur dan tidak dapat lanjut ke babak berikutnya dari lomba tersebut.

Photo by Rachel Claire on Pexels.com
Photo by cottonbro on Pexels.com
Photo by Trang Doan on Pexels.com
Photo by Valeria Boltneva on Pexels.com

Ada begitu kaya variasi hasil olah masakan yang disajikan sepanjang acara MasterChef. Masing-masing peserta mempertontonkan keragaman sajian masakan olahannya. Ada yang begitu menggiurkan bahkan hanya dengan melihat sajiannya, apalagi sambil mendengar ulasan para juri secara lugas. Tiap peserta memiliki spesialisasi unggulan jenis masakan tertentu. Mungkin saja ada kesempatan istimewa bagi peserta tertentu, di mana tantangan yang diberikan pada hari itu ternyata sangat sesuai dengan spesialisasi unggulan dirinya. Seharusnya ini merupakan kesempatan emas baginya untuk memenangkan lomba pada hari tersebut, toh dirinya memang ahlinya untuk jenis masakan yang dilombakan.

Ternyata ….., ada catatan penting yang perlu Anda dan saya perhatikan: “JANGAN TERLALU PD.” Begitu seorang peserta terlalu percaya diri dalam menghadapi tantangan masak yang diberikan, sangat besar kemungkinannya peserta tersebut akan salfok (salah fokus). Ada saja kesalahan yang dilakukannya, sehingga hasil olahannya tidak memuaskan. Terlalu PD menuntun pada lunturnya fokus, lalu dikuasai kesombongan yang menutupi kewaspadaan, menjadikannya terpeleset, terjerembab, gagal, dan dipulangkan. Cukup banyak peserta dalam berbagai sesi MasterChef yang mengalami kegagalan tragis dari “Jebakan Batman” ini.

Tayangan MasterChef telah menjadi hiburan memikat, bahkan bagi orang-orang yang tidak bisa masak seperti saya. Paling tidak, saya toh masih suka dan butuh makan. Sementara saya tidak dapat mengecap sajian masakan tersebut, bolehlah saya mengagumi dan menikmatinya melalui indera lihat-dengar saya. Apalagi masih ada berbagai pesan moral di dalamnya. Bisa jadi hal inilah yang menjadikan tayangan MasterChef dicintai oleh banyak pemirsanya. Bagaimana dengan Anda?

Natur Allah

Photo by How Far From Home on Pexels.com

“Allah adalah kasih,” begitu bunyi sebagian surat Rasul Yohanes pada 1 Yoh. 4:8, dan sebagai gambar-rupaNya, manusia selayaknya kental dengan aksi kasih sebagai manifestasinya. Memang kasih Allah itu “beda,” namun sekaligus “ada kesamaan” dengan kasih manusia. Demikian pula dengan berbagai sifat baik lainnya. Wawasan kristiani memahaminya sebagai aspek transendensi dan aspek imanensi Allah dalam relasi dengan ciptaanNya (Allah 3 – Natur Dan Hakekat Incommunicable Allah – YouTube).

Pencipta pastilah melampaui ciptaannya. Allah sebagai Pencipta, pasti melampaui manusia ciptaanNya, atau juga ciptaanNya yang lain. Jadi pasti ada ketakterpahamkan diri Allah oleh manusia. Allah itu “beda” dengan manusia. Allah tidak dapat dibanding-bandingkan dengan apa pun juga di luar diriNya sendiri. Diri Allah itu bernatur absolut, bukan relatif. Manusia membahasakan Allah sebagai “maha” dalam naturNya, sebab tidak ada kata yang dapat menjabarkan secara tepat akan “ke-…-an” diri Allah. Hal inilah yang dimaksudkan dengan aspek transendensi Allah dalam relasiNya dengan manusia dan ciptaan lainnya.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Manusia sebagai ciptaan menurut gambar-rupa Allah (Kej. 1:26-27; 9:6), dibekali kemampuan untuk memahami sesuatu melalui “olah pikir” dengan memakai “pikiran”-nya sendiri, baik secara intelektual mau pun batin. Melalui mengamati diri sendiri mau pun diri sesamanya manusia, berdasarkan keyakinan iman bahwa manusia adalah selfie-nya Allah, manusia membahasakan natur Allah dalam berbagai sifat baiknya manusia.

Pembahasaan natur tersebut itulah yang diimani manusia sebagai manifestasi kesertaan aktif Allah dalam sejarah ciptaan. Allah aktif beroperasi di dalam dan melalui ciptaanNya, aktif menopang ciptaanNya. Relasi Allah dengan ciptaanNya dalam sejarah ciptaan inilah yang dipahami sebagai aspek imanensi Allah. Manusia dapat memahami diri Allah karena manusia “ada kesamaan” dengan Allah. Agar tidak keliru, imanensi Allah ini harus dipahami dalam kerangka aspek transendensi Allah, dalam ke-Maha-an Allah yang absolut.

Kasih Allah dapat dipahami dan dirasakan oleh manusia karena manusia juga memiliki kasih pada keluarganya, pada hobinya, dsb. Kasih manusia itu muncul dalam diri manusia sesuai dengan aspek pribadinya. Perlu diingat bahwa kasih manusia itu berdimensi relatif, yaitu “dibandingkan” dengan yang lain. Karena berdimensi relatif, kasih manusia itu “berubah,” tergantung pada waktu, situasi kondisi, dan sebagainya. Sifat kondisional ini menumbuhkan berbagai variasi kasih manusia (Valentine’s Day – faithfulONE Ministry). Sebagai makhluk yang berkembang dalam suatu proses, pengetahuan manusia (teoretis dan praktis) juga berkembang seiring pengalaman hidupnya dalam batasan berbagai dimensi ciptaan, misalnya dimensi waktu dan ruang.

Aspek transendensi Allah membedakan Allah dengan “ciptaan” sehingga kasih dan pengetahuan Allah merupakan cerminan diri Allah sendiri yang tidak terbagi-bagi. Natur Allah yang dipahami manusia, merupakan sudut pandang manusia yang terbatas pada salah satu “sudut prismatis” diri Allah yang Esa. Untuk memudahkannya, manusia membahasakan dengan istilah “maha” atas natur Allah yang dapat dipahami secara imanen oleh manusia (Allah 4 – Hakekat Communicable Allah – YouTube).

Allah memiliki pengetahuan dari dan dalam diriNya sendiri secara kekal, lengkap sempurna, dan absolut. Allah tidak perlu meraih pengetahuan dari pihak lain atau melalui proses pengalaman karena Allah melampaui batasan apa pun di luar diriNya. Wawasan kristiani mengimani bahwa segala sesuatu selain diri Allah, belum ada sebelum diciptakan oleh Allah, Sang Pencipta (konsep creatio ex nihilo: Pencipta mencipta segala sesuatu dari ketiadaan). Jadi, kecerdasan dan hikmat Allah yang mahabaik dan mahakuasa yang telah menghadirkan semesta, dengan segenap dimensi yang menjadi hukumnya, dengan sangat baik.

Manusia kemudian dipercayakan untuk menguasai dan mengelola ciptaan tersebut, dalam posisinya sebagai mandatoris (pemangku tugas) Allah yang bertanggung jawab kepadaNya. Sebelum tugas tersebut diberikan, Allah telah terlebih dulu memberkati manusia (Kej. 1:28). Dengan demikian, Allah bukanlah penguasa yang semena-mena, karena sifat tersebut bertentangan dengan naturNya yang adalah kasih.

Secara alami, manusia harus berproses dalam mengembangkan potensi diri yang telah dikaruniakan dan diberkati oleh Pencipta, karena manusia tunduk pada batasan hukum dimensi-dimensi yang menyertainya. Termasuk dalam hal ini adalah pengetahuan dan kasih manusia. Allah sejak awal menolong manusia dalam proses tersebut. Narasi dalam kisah penciptaan manusia (Kej. 2:19-25) menyiratkan proses pengembangan pengetahuan dan kasih manusia terhadap ciptaan Allah lainnya, melalui campur tangan Allah. Keterlibatan Allah menyiratkan kepedulian dan kasih Allah kepada manusia, layaknya orangtua kepada anak kandungnya.

Gambaran dalam MasterChef

Tidak ada seorang pun manusia yang begitu lahir, langsung ahli pada satu keahlian tertentu. Butuh proses untuk memunculkan dan memiliki keahlian tertentu. Iman kristiani mengakui adanya talenta tertentu yang dikaruniakan Allah secara unik pada setiap manusia. Tidak ada seorang pun manusia yang semua bisa, atau tidak bisa apa pun. Natur kasih Allah pasti beranugerah, dan hikmat pengetahuan Allah mengaruniakan talenta sesuai kesanggupan masing-masing orang (Mat. 25:15). Jadi tidak sepantasnya bila Anda dan saya iri hati dengan kebisaan orang lain. Tiap orang sudah punya modal awal (innate) yang paling cocok bagi diri pribadinya, tinggal bagaimana tanggungjawab pribadinya untuk mengembangkannya agar makin optimal dalam dirinya (acquire). Bila tidak berkembang, itu sepenuhnya kesalahannya sendiri, tidak pantas menyalahkan sikon (situasi kondisi) atau pun orang lain.

Mungkin saja butuh suatu proses dan bantuan orang lain untuk mengenali talenta dirinya. Secara umum talenta diri tersebut dapat dikenali melalui gairah (passion) anak pada suatu bidang tertentu. Gairah tersebut menjadi tanda awal yang menyiratkan cinta atas bidang tersebut, sehingga perlu diberi kesempatan untuk berkembang secara positif. Sayangnya pihak “orang tua” di sekelilingnya mungkin gagal mengenalinya, dapat dikarenakan mereka memiliki obsesi agendanya sendiri buat sang anak, sehingga bahkan tanpa sadar menekan (suppressed) gairah anak tersebut.

Manusia bisa gagal, namun Allah tidak mungkin gagal. “Kegagalan” manusia bahkan dapat digunakan Allah untuk mencapai rancanganNya yang baik bagi anak tersebut, seperti dalam narasi Yusuf dengan saudara-saudara seayahnya (Kej. 50:20). Para peserta MasterChef hadir dengan beragam profesi. Ada yang tidak selaras dengan profesi jurutama masak, namun cinta pada aktifitas masak memasak berlaku secara umum bagi semua peserta. Memang ada peserta yang sejak kecil dilibatkan oleh “orang tua” dalam aktifitas masak bagi sajian makanan untuk keluarganya, namun ada pula yang kurang berkesempatan dan baru muncul pada tahap usia lebih lanjut. Perbedaan kesempatan tersebut tidak meniadakan modal awal yang telah dikaruniakan secara indah oleh Allah baginya. Pasti selalu ada kesempatan untuk munculnya talenta tertentu yang dicintainya tersebut.

Prinsip penting dalam iman kristiani adalah talenta tersebut dikaruniakan Allah bagi seseorang menurut kehendakNya (1 Kor. 12:11), bukan untuk kepentingan orang itu sendiri saja, melainkan untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7). Prinsip ini selayaknya melahirkan sikap rendah hati dan kerelaan berbagi, bukan terobsesi pada kemenangan semata. Kegagalan memahami dan menerapkan prinsip ini akan berujung pada kegagalan memenangkan kompetisi MasterChef sesi tersebut secara anggun/elegan. Dalam setiap kompetisi apa pun, tidak terhindarkan ada pihak yang akan menjadi pemenang/juaranya. Tayangan MasterChef menjadi menawan saat juaranya meraih kemenangan tersebut melalui suatu proses yang menunjukkan adanya cinta dan kerendahan hati.

Penutup

Setiap kompetisi yang wajar, setidaknya mengandung elemen aturan main, peserta, dan juri. Sewajarnya bila pihak juri merupakan pihak yang menjunjung profesionalisme secara adil. Kompetisi yang ditayangkan, berkonsekuensikan adanya juri informal yaitu pemirsanya. Keberhasilan tayangan kompetisi ditentukan oleh semua pihak yang terlibat tersebut. Di samping itu, budaya yang berlaku saat penayangannya juga mempengaruhi keberhasilannya. Tayangan MasterChef menjadi memikat karena menyajikan kecintaan pada masak memasak secara anggun, baik oleh para juri dan terutama oleh para pesertanya.

Photo by Miquel Ferran Gomez Figueroa on Pexels.com

Ada pembelajaran moral yang dapat dipetik dalam tayangan MaterChef tersebut. Belum lagi pikatan tampilan hasil olah masakan yang menyegarkan mata pemirsanya, serta ulasan gamblang para jurinya yang melengkapi imaginasi pemirsanya. Masyarakat saat ini juga lebih dapat menghargai profesi jurutama masak (chef) sebagai profesi terhormat, tidak kalah dengan profesi lain yang secara tradisi dihargai keprofesiannya, misalnya profesi dokter.

Sebenarnya prinsip rendah hati dan kecintaan bidang kerjanya merupakan prinsip bersama yang berlaku pada profesi apa pun. Tanpa menjiwai prinsip tersebut, tidak akan ada “kemenangan” anggun/elegan dalam berbagai kasus yang dapat dialami secara profesional. Mengakui Allah sebagai sumber karunia talenta baik yang terus menyertai pengembangan talenta tersebut, memudahkan manusia untuk bergantung dan bersyukur kepadaNya. Dengan demikian, tanggung jawab profesional selayaknya diwarnai semangat mewujudkan cinta talentanya dengan rendah hati serta memuliakan Pemberi talenta tersebut melalui karya profesionalnya. Terpujilah Allah yang mahakasih.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar