A.L.I.E.N

“Asing”

Tokoh utama dalam film “Tenet” menyampaikan dalam suatu dialog pada film tersebut bahwa setiap manusia memiliki “binatang buas” dalam dirinya. Acapkali manusia yang menjadi inangnya tidak tahu akan adanya “monster” tersebut. Seharusnya, “monster” itu dikenali dan dibentengi oleh sang inang agar tidak menguasainya. Individu yang memiliki kehendak yang kuat (strong will) “mungkin” dapat melakukannya. Jadi kehidupan ini seolah arena pertarungan “kekuatan kehendak” antara “monster” dengan “inang.” Apabila benteng sang inang tepat dan kuat membentengi “monster” dalam dirinya, maka sang inang akan menjadi tuan atas dirinya sendiri. Sebaliknya, “monster” tersebut akan menjadi tuan atas inangnya bila bentengnya tidak tepat sasaran atau bobol diterjang “monster” tersebut, apalagi bila sama sekali tidak ada benteng pengurungnya.

Dari sudut pandang filsafat, “kehendak” (will) dipahami sebagai kapasitas akal budi (faculty of mind) yang lebih merupakan mekanisme yang bertanggungjawab memilih apa yang paling menggairahkan seseorang, pada saat dirinya mengambil keputusan. “Kehendak”-lah yang mendasari suatu tindakan, sehingga “kehendak” menjadi pusat dari bidang etika yang erat terkait dengan konsep “benar” (right) atau “salah” (wrong) secara moral (Will (philosophy) – Wikipedia). Wawasan kristiani memegang pemahaman bahwa Allah sebagai sumber dan penentu Hukum Moral, sehingga “kehendak” tidak dapat dilepaskan dari Hukum Moral Allah sebagai dasar patokannya.

Wawasan kristiani memahami manusia yang merupakan selfie Allah, telah kehilangan kemuliaan Allah saat menolak untuk percaya dan taat kepada Allah, serta memberontak melawan kedaulatan kuasa Allah. Hal ini memunculkan “musuh” dalam diri manusia, yaitu Dosa yang menguasai manusia. St. Agustinus dari Hippo (13/11/354-28/08/430) menyatakan keadaan manusia tersebut sebagai “budak dosa” yang telah kehilangan kebebasan “kehendak”-nya, sehingga tidak mungkin tidak melakukan dosa (non posse non peccare = not able not to sin). Keadaan ini selaras dengan pernyataan dalam Alkitab (Kej. 6:5)

“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” (LAI TB)

Dengan demikian, wawasan kristiani memandang “musuh” dalam diri manusia ini secara lebih serius. Manusia tidak mampu mengatasinya sendiri, tidak dengan kekuatan “kehendak”-nya sekali pun karena “kehendak” manusia tersebut telah diperbudak oleh Dosa. Contoh sederhananya dapat diilustrasikan dengan rangsangan informasi, misal melalui tayangan tv yang masuk melalui inderawi penontonnya, akan masuk dan tersimpan pada memorinya yang sewaktu-waktu dapat membangunkan “musuh” dalam dirinya, khususnya saat kondisi benteng dirinya melemah karena satu dan lain hal, sehingga “musuh” tersebut menguasai “kehendak”-nya (Kris Lundgaard. The Enemy Within. Penerbit Momentum).

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari paparan informasi yang bertebaran di sekelilingnya. Belum lagi bila mempertimbangkan natur Allah yang absolut sempurna, sehingga Hukum Moral Allah juga bersifat sempurna. Manusia yang tidak sempurna, terbatas, banyak kelemahan, dan kemudian diperparah dengan kecemaran yang menutup kemungkinan berelasi dengan Allah yang absolut sempurna dalam kekudusan, tidak cukup mampu dari dirinya sendiri untuk memenuhi Hukum Moral Allah secara sempurna.

Dosa yang memperbudak manusia inilah yang memisahkan manusia dengan Allah, bahkan menghilangkan kemuliaan Allah pada diri manusia (Rm. 3:23) yang diciptakan Allah menurut gambar-rupaNya (Kej. 1:26-27). Kondisi ini menjadikan manusia asing dengan dirinya sendiri, sehingga juga asing dengan sesamanya mau pun dengan Penciptanya. Hal inilah yang mendasari klaim Homo Homini Lupus yang menindas kemanusiaan dengan kelalimannya.

Anugerah

Realita tanpa harapan tersebut seolah merupakan dongeng jahat dalam wawasan kristiani, karena kenyataannya banyak orang yang masih tetap melakukan kebaikan moral bagi orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya secara pribadi sekali pun. Banyak berita di sosial media yang menayangkan sekelompok goweser menolong membelikan dan mengantarkan obat dan kebutuhan sehari-hari bagi para isoman. Juga marak kumpulan ibu-ibu yang menyediakan makan sejak makan pagi hingga makan malam bagi para penderita covid-19 dan keluarganya. Belum lagi sumbangan dana segar yang disalurkan melalui berbagai kelompok untuk bersama-sama meringankan dan menyukseskan penanganan pandemi ini, dsb. Semuanya itu dilakukan secara sadar, ikhlas, gratis, tak membedakan.

Wawasan dunia (worldview) harus dipahami dan dinilai secara lengkap, tidak boleh secara parsial. Wawasan kristiani tentang Allah juga mencakup natur baik Allah yang absolut sempurna dan tidak berubah. Keberadaan Allah yang melampaui batasan apa pun juga yang membatasi segala ciptaan, menjamin kebenaran logis klaim tersebut. Natur baik Allah tersebut memastikan luapan kebaikan Allah bagi ciptaan sehingga manusia, yang seharusnya terpisah dari Allah karena ketercemaran manusia berlawanan dengan kekudusan Allah, tetap menerima kebaikan Allah yang bersifat umum.

Kebaikan umum Allah inilah yang masih menjaga sifat-sifat baik yang dimiliki oleh manusia, masih ada “sisa” sifat baik manusia, termasuk sifat sosial manusia. Sejahat apa pun manusia, tidak akan merubahnya menjadi “binatang,” karena natur ketakberubahan Allah mematenkan keputusanNya dalam menciptakan manusia sebagai manusia. Hal inilah yang mendasari aksi sosial yang dilakukan oleh berbagai kelompok dalam berbagai bentuk aksi bagi penderita covid-19 saat ini. Di samping rasa terima kasih bagi semua pihak yang terlibat dalam aksi sosial tersebut, jangan pernah lupa bersyukur kepada Allah yang tetap beranugerah bagi manusia.

Penutup

Pandemi covid-19 muncul tidak diharapkan oleh semua manusia di dunia saat ini dan telah memporak-porandakan amat banyak segi kehidupan. Pandemi covid-19 telah menderitakan banyak individu dalam aneka bentuk kehilangan dan belum dapat dipastikan kapan akhir derita yang ditimbulkannya. Layaknya maraton, telah cukup banyak korban yang berjatuhan dan tidak lagi dapat meneruskannya untuk mencapai garis akhir kemenangan. Kondisi ini seolah memperhadapkan dua pilihan saja, yaitu seruan “Tahan Mana” atau rintihan “Mana Tahan.”

Lebih runyam lagi, ada berbagai oknum yang senang menari di atas penderitaan orang lain dengan melakukan berbagai aksi keji yang mencederai kemanusiaan. Belum cukup terlihat adanya tindakan hukum oleh otoritas pengemban amanat hukum bagi para oknum keji ini. Hukum Allah yang menjadi landasan pedoman kehendak manusia, tidak pernah berubah dan pasti ditegakkan. Memang bukan waktu manusia (kronos) yang berlaku, melainkan waktu Allah (kairos). Bukan pula kehendak, rancangan, jalan manusia, melainkan kehendak, rancangan, jalan Tuhanlah yang jadi. Percaya, berserah, dan taat pada pengaturan Allah yang “berbeda” tersebutlah (Yes. 55:8-9) yang menjadi harapan manusia. Segala sesuatu pastilah dibuatNya indah pada waktunya, itu dijanjikanNya dalam teks Pengkhotbah pasal 3 ayatnya yang ke 11a.

Allah yang bernatur baik senantiasa melimpahkan anugerah sesuai naturNya bagi ciptaan, khususnya bagi manusia yang diciptaNya menurut gambar-rupaNya. Kebenaran ini memampukan manusia yang percaya dapat meresponi masa pandemi covid-19 ini dengan “Masih Ada Harapan.” Natur baik Allah memastikan anugerah hari depan yang penuh harapan, bukan kecelakaan (Yer. 29:11). Di kala terpaan derita melanda, marilah berseru dalam doa kepada Allah, mencari Allah dengan segenap hati, karena Allah berkenan mendengar dan ditemukan, serta memulihkan keadaan umatNya (Yer. 29:12-14).

Bagi yang terjerat dengan keinginan keji dan menjadi serigala bagi sesamanya manusia, ada undangan untuk bertobat dan kembali kepada Allah yang memberi ampunan dengan limpahnya (Yes. 55:7), sehingga dapat dipulihkan menjadi sahabat bagi sesama manusia. Manusia tidak lagi menjadi asing (alien) dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya manusia, dengan lain ciptaanNya, bahkan dengan Sang Penciptanya sendiri. Semuanya itu dilakukan Allah yang demikian besar kasihNya atas “dunia” ini (Yoh. 3:16), kebesaran kasih yang tidak dapat diselami manusia secara menyeluruh (Pkh. 3:11c). Hanya oleh anugerah Allah semata (Sola Gratia), anugerah kekal tersebut disematkan Allah dalam hati manusia (Pkh. 3:11b). Terpujilah Allah yang mahamulia. Soli Deo Gloria.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar