Makna Diri
Hukum pertukaran tidak dapat dilepaskan dari faktor ketersediaan dan kebutuhan (supply and demand). Semakin langka tersedianya maka harganya makin mahal, apalagi bila makin besar dibutuhkannya. Sebaliknya, semakin limpah tersedianya maka harganya akan makin ekonomis. Hukum ini juga berlaku bagi sumber daya manusia. Faktor tenaga kerja yang ‘murah,’ pernah menjadi unsur pemikat masuknya investor asing ke negara-negara yang limpah tenaga kerjanya namun kurang lapangan kerjanya. Di satu sisi, hal ini dapat menarik investor karena berpeluang dapat menekan biaya produksi dari elemen tenaga kerja murah, namun di sisi lain rawan dengan konflik kerja antara pemodal dengan pekerja yang kerap kali diperlakukan secara kurang manusiawi karena dinilai hanya sebagai ‘sarana produksi.’
Untuk sesaat, mungkin saja para pekerja yang memiliki kebutuhan hidup tertentu, akan menundukkan diri dan mandah saja menerima perlakuan kurang manusiawi tersebut. Secara umum, kondisi ekonomi seseorang memang cukup besar dampaknya bagi jenis kebutuhan apa yang menjadi fokus dirinya. Kebutuhan diri tertentu yang dipandang penting baginya, akan menjadi pendorong tindakannya. Abraham Maslow telah menggambarkan tingkatan kebutuhan (Hierarchy of Needs) yang dianggap penting oleh manusia selaras dengan ‘status’ dirinya, walau pun tetap ada anomali pada orang-orang tertentu di situasi-kondisi tertentu. (“COUP” – faithfulONE Ministry).

Teknologi internet yang makin berkembang pesat, makin mengarah pada IoT (Internet on Things: jaringan serangkaian peralatan fisik, yang didukung oleh berbagai teknologi, untuk saling berbagi data secara ‘waktu-sebenarnya’ (real-time) melalui internet). Pengembangan ‘kecerdasan buatan’ (AI/Artificial Intelligent: simulasi kecerdasan manusia pada perangkat mesin yang diprogram sedemikian rupa agar mampu berpikir dan menganalisa secara rasional, lalu mengambil tindakan tertentu yang terbaik guna mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan) yang makin umum diterapkan pada IoT, akan makin mengubah dunia kerja. Pandemi covid-19 yang memaksa manusia untuk hidup lebih akrab dengan platform berbasis internet, akan mengkondisikan ‘gaya hidup’ baru bagi manusia saat paska pandemi. Elemen tenaga kerja murah tidak akan menarik lagi bagi calon investor, karena otomasi tidak akan terelakkan. Sistem produksi barang dan jasa yang secara konvensional dikerjakan oleh manusia, akan diselesaikan secara lebih efisien oleh sistem otomasi berbasis AI yang tidak berperasaan, sehingga merenggut otoritas dari individu manusia. Hal ini akan berdampak pada kehilangan makna, tujuan hidup, dan martabat individu, karena hampir mustahil untuk memahami makna manusia bila dilepaskan dari pentingnya kerja bagi manusia. Selain itu, taraf gaji seseorang seringkali dipakai sebagai barometer untuk mengukur nilai dirinya, menimbulkan rasa dihargai oleh orang lain, semacam simbol pengakuan terbuka atas prestasi dirinya. (R.C. Sproul, Mendambakan Makna Diri. Surabaya, Penerbit Momentum).
Ada 3 aspek nilai kerja bagi manusia yang lebih bersifat hakiki (Ini Tiga Nilai Kerja Manusia – (kitakatolik.com)), yaitu:
- Nilai Personal: kerja merupakan suatu aktifitas pengembangan dan pengaktualisasian segenap talenta diri manusia, yang dilaksanakan secara sadar dan bebas guna mencapai suatu tujuan tertentu, sehingga memiliki aspek pertanggungjawaban individu.
- Nilai Sosial: kerja pasti mengandung relasi ketergantungan dan keterikatan, sebab tidak ada suatu pekerjaan apa pun yang dapat dikerjakan sepenuhnya oleh hanya satu orang dan hanya untuk satu orang itu saja, sehingga mencerminkan natur manusia sebagai makhluk sosial, dan juga merupakan suatu bentuk pelayanan bagi sesama.
- Nilai Spiritual: penghayatan diri sebagai ciptaan yang diberkati dengan segala kapasitas diri yang unggul oleh Sang Pencipta, yang juga telah menyediakan segala sesuatu yang baik bagi manusia (Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube), akan melandasi sikap kerja sebagai ungkapan kasih kepada Sang Pencipta (Kol. 3:23).
Pemaknaan kerja yang demikian, akan menolong untuk lebih paham akan maksud dari “perumpamaan tentang talenta” yang dinarasikan dalam Alkitab (Mat. 25:14-30).
“Perumpamaan tentang talenta” menyiratkan pentingnya profesionalitas yaitu mumpuni dalam profesinya, baik secara keilmuan mau pun secara kepribadian. Keterbukaan untuk pengembangan diri merupakan salah satu aspek penting dalam profesionalitas. Masa pandemi covid-19 memberi kemudahan bagi pengembangan diri, melalui limpahnya seminar daring bermutu baik yang tidak berbayar. Tetap dibutuhkan sikap bijak yang bertanggung jawab untuk memilih seminar yang sesuai dengan kesanggupan diri sendiri. Pemilihan ini tidak dapat dilepaskan dari pemahaman diri atas natur konstitusional manusia, yaitu sebagai kelompok monokotomis, dikotomis, atau pun trikotomis. (Manusia 7 Natur Konstitusional Manusia – YouTube). Pemahaman ini juga akan berdampak pada bagaimana manusia mengembangkan sistem pendidikan bagi generasi berikutnya (Ninja Warrior – faithfulONE Ministry).
Tidak selalu mudah untuk bersikap terbuka bagi pengembangan diri, karena manusia secara umum tidak menyukai adanya perubahan. Apalagi bila perubahan tersebut terkait dengan struktur kekuasaan atau pun kebijakan ‘baku.’ Perlu keberanian moral yang besar untuk mendobrak kebijakan ‘baku’ (khususnya aturan-aturan tak tertulis) yang telah lama diterapkan, walau pun kebijakan tersebut telah ‘basi’ di jaman kini, atau pun merupakan kebijakan yang tanpa sadar telah melanggar asas keadilan. Salah satu kebijakan tidak tepat yang acapkali terjadi adalah pemberian tugas kepada pekerja tanpa disertai dengan otoritas yang sepadan dengan besarnya tanggung jawab atas tugas tersebut. Hal ini dapat memicu pekerja yang bersangkutan untuk melakukan ‘taktik kekuasaan’ yang bukan otoritasnya demi menghindari kegagalan dalam melaksanakan tugas yang diberikan tersebut. Tidak ada seorang pun yang senang mengalami kegagalan, apalagi bukan karena kesalahannya sendiri. Deskripsi tugas yang tidak seimbang dengan struktur otoritas organisasi, berpotensi menimbulkan penindasan yang akan membawa korban berupa perendahan martabat. Prinsip penting yang seharusnya tetap dipegang adalah ‘nilai manusia harus diutamakan dibandingkan nilai alat investasi lainnya.’ Prinsip tersebut berdasarkan pada penghayatan iman kristiani yang memegang penyataan dalam Alkitab bahwa manusia diciptakan menurut gambar rupa Allah (Kej. 1:26-27), sehingga perendahan martabat manusia merupakan tindakan merendahkan Allah Sang Pencipta. (R.C. Sproul, Mendambakan Makna Diri. Surabaya, Penerbit Momentum).
Penutup
Kerja yang seharusnya merupakan manifestasi dari natur manusia yang mulia, telah melahirkan berbagai polemik, bahkan konflik, yang merendahkan makna diri manusia. Persaingan yang makin ketat telah memaksa manusia untuk mengejar dominasi guna melindungi makna dirinya. Kondisi yang mengintimidasi manusia ini, menstimulasi manusia untuk mengintimidasi pihak lain agar menjadi takut kepadanya. Pelintiran ‘Peraturan Emas’ menjadi semboyan yang dipegangnya, yaitu “Lakukanlah kepada orang-orang lain sebelum mereka melakukannya kepadamu.” (Bandingkan dengan Mat. 7:12).
Alih daya yang merupakan salah satu strategi bisnis dalam menghadapi persaingan, telah memunculkan berbagai polemik pro-kon yang mungkin akan makin meruncing ke depannya. Strategi alih daya sendiri nampaknya akan makin populer ke depannya. Bila kondisi ini ditanggapi secara ‘keluh kesah’ maka ‘derita’ yang akan dirasakan, akan makin mencekik, karena makin membuat makna dirinya terpuruk lebih dalam.
Natur kebaikan Tuhan yang senantiasa berkelanjutan menerapkan providensia bagi ciptaan-Nya, selayaknya diresponi dengan bertanggung jawab oleh manusia yang merupakan mahkota ciptaan Tuhan tersebut. Kebaikan Tuhan memastikan bahwa di balik tantangan selalu ada peluang, tinggal bagaimana manusia meresponinya (1 Kor. 10:13). Kondisi pandemi covid-19 saat ini memang menjadi tantangan berat bagi banyak bidang, yang berdampak pada banyaknya kasus kehilangan mata pencaharian. Di lain pihak, terbuka kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pembekalan berbagai seminar daring yang bermutu baik walau tidak berbayar. Butuh keuletan dan kelenturan agar dapat menjadi penyintas kondisi yang secara umum tidak kondusif ini. Mungkin ini menjadi sarana latihan dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih berat di masa depan.
Kemajuan teknologi yang sulit dibayangkan dan tidak mungkin dihambat, sangat mungkin akan merenggut otoritas dari individu manusia yang dapat berdampak pada makin dinginnya kasih kebanyakan orang (Mat. 24:12). Generasi berikut perlu dibekali secara serius melalui pendidikan menyeluruh sejak usia dini. Profesionalitas yang benar harus dibangunkan agar generasi berikut mampu menyintas tantangan jaman, siap menyaksikan kemuliaan Tuhan dan menjadi saluran berkat Tuhan bagi manusia. Kasih setia Tuhan tidak pernah berubah, dan kesempurnaan kasih-Nya telah nyata melalui karya salib Yesus Kristus bagi tebusan dosa manusia. Itulah dasar pengharapan bagi manusia yang memampukan manusia bertahan hingga akhir dan diselamatkan (Mat. 24:13). Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.
