BEFORE

AFTER

Abstract
Renovasi bangunan, terutama secara menyeluruh, merupakan suatu proses yang menarik untuk diikuti bila dilaksanakan secara profesional. Salah satu tv Jepang menyajikannya dalam acara “The Before and After.” Ada berbagai manfaat yang dapat diraih oleh pemirsa, selain mengagumi hasil akhir renovasinya. Sumber dari NewStudio Architecture menjadi salah satu elemen penting dari tulisan ini. Topik ini juga memberi ‘pesan moral-spiritual’ prinsip iman kristiani tentang “Lahir Baru.” Apa dan bagaimana ‘relasi’nya?
Pendahuluan
Sebagai pencinta acara tv yang ‘bermutu’ (menurut saya), tayangan yang menyajikan tentang renovasi rumah menjadi tontonan yang menghibur dan ‘mencerahkan’ saya di tengah pandemi covid-19 yang tidak tahu kapan akan mereda. Tayangan “Before and After” menjadi lebih menarik bagi saya bila dibandingkan dengan tayangan serupa, misal “Bedah Rumah” atau pun tayangan sejenisnya di saluran HGTV. Bukan berarti tayangan lain itu tidak menarik, namun bagi saya, “Before and After” menyajikan ‘kebijakan lokal asia’ yang cocok dengan keberadaan saya sebagai ‘orang asia.’ Secara umum, acara ini menayangkan bagaimana ‘rumah tua’ yang telah luntur keindahan dan kepraktisannya, dirombak oleh ‘perajin ahli’ yang menanganinya, sehingga menjadi indah dan efektif bagi penghuninya di masa kini dan masa depan, menjadi semacam ‘hunian selamanya’ yang di-motto-kan acara serupa, yaitu “Forever Home.”
Menariknya, tayangan tv tersebut menstimulasi saya untuk melakukan refleksi tentang “Lahir Baru” yang merupakan salah satu prinsip penting iman kristiani. Dua ‘blog’ dari NewStudio Architecture, yaitu tulisan Mark Dunsworth, 25 Maret 2019 (Client Perspective: Reflections on a Whole House Remodel — NewStudio Architecture), dan tulisan administratornya di tanggal 6 Juni 2016 (Think Like a Human — NewStudio Architecture), menolong saya dalam menuliskan refleksi kristiani ini. Semoga dapat membangkitkan rasa syukur yang mendorong untuk memaknai “Lahir Baru” dengan lebih ‘profesional.’
“Before and After“
Urusan rumah tinggal bukanlah masalah sepele. Abraham Maslow menenggarai rumah tinggal sebagai salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar. Kenyamanan dan efektifitas tata ruang serta interiornya, akan signifikan bagi ‘damai sejahtera’ penghuninya. Tentu saja, aspek keamanan struktural juga sangat penting bagi keamanan penghuninya. Jadi rumah tinggal paling tidak haruslah aman, nyaman (termasuk keindahan), efektif-efisien, bagi aktifitas penghuninya. Sayangnya, aspek-aspek penting tersebut tidak selalu dapat terpenuhi, mungkin karena bangunannya sudah out-of-date, pertumbuhan anggota penghuninya, perubahan kegunaan ruang, bahkan ‘salah bangun,’ dan sebagainya. Rumah tinggal yang awalnya cukup aman-nyaman bagi penghuni mula-mula, telah menjadi ‘beban penderitaan’ bagi penghuni saat ini. Butuh perbaikan oleh ‘perajin ahli’ yang kompeten, serta dana segar untuk mewujudkannya.

NewStudio Architecture mencatat beberapa harapan penting pihak penghuni, khususnya berkenaan dengan ‘kepuasan pelanggan’ (Client Perspective: Reflections on a Whole House Remodel — NewStudio Architecture), yaitu:
- Terkait hasil renovasinya:
- Perubahan ‘tampilan dan rasa’ bagi penghuni atas tempat tinggalnya.
- Keleluasaan dalam aktifitas sosial sesuai gaya hidup keseharian penghuni.
- Tetap memancarkan kenangan khusus penghuni yang tersimpan dalamnya.
- Terkait peran ‘perajin ahli’:
- Menangkap dan menolong mewujudkan ‘impian’ penghuni.
- Memutuskan secara profesional, detail harmonis desain interior (misal warna, material, perlengkapan, dsb) yang nyaman bagi penghuni.
- Terkait memilih ‘perajin ahli’:
- Mampu membangun komunikasi terbuka dan peduli dengan penghuni.
- Mampu memahami pribadi, gaya hidup, dan kebutuhan prioritas penghuni.
- Mau mengalokasikan waktu berinteraksi dengan penghuni.
- Terkait pro dan kontra detail hasil renovasi:
- (+) Tersedia banyak ruang simpan ‘tersembunyi’ yang menunjang kerapihan.
- (+) Ruang kumpul favorit bagi aktifitas bersama atau pun aktifitas pribadi.
- (‒) Ada bagian interior yang tidak dapat memuaskan semua pihak penghuni.

Jadi, ‘perajin ahli’ yang profesional wajib memperlakukan pihak penghuni ‘sebagai manusia’ yang personal. Desain bukan hanya menekankan keindahan, melainkan ‘memikirkan secara cermat atas apa yang akan ditempatkan di dunia ini’ (Think Like a Human — NewStudio Architecture). Aktifitas mendesain harus memegang erat prinsip-prinsip pengamatan cermat (observe and listen), mengikutsertakan dan berempati (engage and empathize), merangkul kendala (embrace constrains), dan berani mencoba (practice bravely).

Dengan demikian, ‘perajin ahli’ akan makin mampu memuaskan pelanggannya. Saat ‘serah terima,’ ada penjelasan detail penting hasil karya ‘perajin ahli’ kepada para penghuninya, agar mereka dapat menikmati tempat tinggal barunya secara optimal. Tayangan “Before and After” biasanya diakhiri dengan cuplikan sekilas kehidupan para penghuni dalam aktifitas hidup kesehariannya di tempat tinggal baru mereka tersebut. Tentu saja, para penghuni ‘rumah baru’ tersebut wajib menyesuaikan diri dengan ‘model baru’ tempat tinggalnya.
“Lahir Baru“
Allah sebagai ‘Perajin Agung’ telah mendesain dan mewujudkan ciptaan-Nya dengan sangat baik sesuai dengan natur sempurnanya yang absolut. Manusia yang diciptakan menurut gambar rupa Allah, merupakan ‘mahkota’ ciptaan-Nya. Dalam akhir narasi penciptaan, penempatan manusia di posisi dan tugas khusus dalam ciptaan (Kej. 1:26-28) itulah yang dilihat Allah sebagai ‘sungguh sangat baik’ (Kej. 1:31).

Sebagai citra Allah, manusia dilengkapi dengan berbagai kapasitas diri yang sangat efisien-efektif, misalnya kehendak bebas (freewill) dan pertimbangan logis-etis. Kapasitas kehendak bebas yang sejati (genuine), memungkinkan pemiliknya melakukan ‘salah pilih.’ Narasi pada kitab suci kristiani (Kej. 3) menyampaikan salah pilih yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Hal ini berdampak pada ketidakmampuan manusia untuk, – pada dirinya sendiri -, memilih secara benar menurut standart Tuhan. Mengutip istilah St. Agustinus, manusia berada dalam kondisi non posse non peccare (not able not to sin), yaitu kondisi ‘keterbelengguan kehendak’ (AUGUSTINE’S DOCTRINE OF THE BONDAGE OF THE WILL : Apprising Ministries). Kehendak bebas manusia memang tidak berada dalam ‘tekanan’ (coercion), namun naturnya yang ‘terkorupsi’ mengkondisikan ‘kebutuhannya’ (necessity) untuk memilih yang ‘jahat’ (Kej. 6:5).

Jadi, manusia yang awalnya sangat baik, sudah menjadi ‘renta dan lusuh.’ Hati manusia (NB: bukan organ tubuh) sebagai pusat eksistensi diri manusia, tidak aman-nyaman lagi sebagai ‘tempat tinggal’ rohnya. Roh manusia ‘menderita’ dalam dirinya, butuh ‘pembebas’ yang ‘bayar harga’ untuk merenovasinya secara menyeluruh. Kondisi manusia yang sepenuhnya bangkrut (Rm. 3:23; lihat perumpamaan ‘anak yang hilang’ di Luk. 15:14-16), sama sekali tidak memampukannya menyediakan dana pembayar tersebut.
‘Dana segar’ yang dibutuhkan untuk renovasi menyeluruh itu sangatlah besar. Allah sendiri telah menetapkan dampak dosa adalah maut (Rm. 6:23a). Hal ini sesuai dengan natur kemaha-kudusan (1 Yoh. 1:5; 1 Tim. 6:16) dan kemaha-adilan-Nya (Ul. 32:3-4). Pembebas, yaitu Yesus Kristus, harus menyediakan dan membayarnya dengan bayaran tak ternilai, berupa pengorbanan diri-Nya sendiri yang tak bercacat-cela di kayu salib terkutuk (Gal. 3:13; Ul. 21:23). Hal ini sesuai dengan ‘hukum pembalasan’ (Lex Talionis: Kel. 21:23-25; Im. 24:19-22; Ul. 19:21), yang pada dasarnya ditetapkan Allah untuk mencegah ‘dosa’ manusia.

Bukan itu saja, pembebasan tersebut dilanjutkan dengan mengutus Roh Kudus sebagai ‘Perajin Ahli’ yang akan merenovasi total ‘hati manusia’ agar menjadi tempat tinggal yang aman-nyaman bagi roh manusia, yang sekarang menempati ‘hati’ tersebut bersama dengan Roh Kudus.

Secara misterius, Tuhan beranugerah menempatkan Roh Kudus sebagai meterai tanda kepemilikan-Nya di hati umat milik-Nya (2 Kor.1:22). Inilah yang dipahami sebagai “Lahir Baru” menurut iman kristiani (lihat Keselamatan 3-4: Kelahiran Baru Menurut Alkitab Dan Teologis – YouTube). Anugerah “Lahir Baru” ini merupakan ‘awal’ secara logis (dalam konteks kronos/creature’s time) dari ‘paket simultan keselamatan’ (dalam konteks kairos/God’s time) yang dianugerahkan Allah bagi umat-Nya (lihat Keselamatan 2: Urutan Keselamatan Dan Kesatuan Dengan Kristus – YouTube). Paket tersebut menegaskan bahwa umat-Nya wajib hidup selaras dengan ‘kebaruan model’ (remodelling) dirinya.
Pesan Moral-Spiritual
Ada pokok-pokok penting dalam narasi tayangan “Before and After” yang dapat menolong pemahaman tentang “Lahir baru,” yaitu:
- Tempat tinggal yang awalnya dirancang-bangun cukup aman-nyaman bagi penghuni mula-mula, mengalami ‘penuaan’ sehingga cukup menderitakan penghuninya kini. Allah yang menghadirkan ciptaan mula-mula yang sungguh sangat baik, ‘dikecewakan’ dan ‘didukakan’ (Kej. 6:6) dengan ‘kebobrokan’ manusia yang dijadikan-Nya.
- Tempat tinggal yang telah ‘lapuk-usang’ harus dilakukan perombakan menyeluruh (whole remodelling) oleh ‘perajin ahli’ agar aman-nyaman, efektif-efisien, bagi penghuninya yang ‘berkembang.’ Allah sebagai ‘Perajin Agung’ berkarya oleh diri-Nya sendiri, me-Lahir Baru-kan manusia yang pada dasarnya telah ‘mati,’ agar layak bagi tempat Roh Kudus, – yang menyertai roh manusia -, untuk tinggal di dalamnya.
- Tempat tinggal ‘tua-usang’ yang belum dibarui, tetap memberi ‘kemanfaatan’ di samping ‘penderitaan’ bagi penghuninya. Manusia yang belum “Lahir Baru” tetap dapat memunculkan kebaikan terbatasnya sebagai manusia, hanya karena ‘Anugerah Umum’ Allah yang konsisten dengan natur diri-Nya yang maha baik dan tidak berubah.
- ‘Dana segar’ diperlukan untuk melakukan pembaruan tempat tinggal tersebut, dan harus disediakan oleh penghuninya. Yesus Kristus, sebagai Penebus umat-Nya, menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai ‘dana tebusan’ pembayar renovasi total umat-Nya. Tidak ada setitik pun ‘dana’ yang dikeluarkan oleh manusia yang telah bangkrut total dan sepenuhnya diperbudak oleh dosa (non posse non peccare).
- Komunikasi ‘terbuka dan peduli’ harus dibangun antara penghuni dengan sang ‘perajin ahli.’ Allah sebagai ‘Perajin Agung,’ telah mengkomunikasikan tujuan desain agung-Nya kepada manusia sebagai penghuni dunia ciptaan-Nya, bahkan telah memberkatinya agar mampu berperan efektif sesuai tujuan keberadaannya (Kej. 1:28).
- Para penghuni yang baru, wajib menyelaraskan ‘gaya hidup’nya dengan ‘model baru’ tempat tinggalnya sekarang. Manusia yang telah “Lahir Baru” wajib terus menjalani “Hidup Baru” yang selaras dengan keberadaannya yang baru, dengan percaya dan taat pada Roh Kudus yang memimpin dan menolongnya untuk “Hidup Baru.”
Prinsip “Lahir Baru dan Hidup Baru” berbeda secara ontologis dengan pemikiran filsafat moral Aristoteles tentang kondisi keberjadian etika (state of being) yang ditentukan oleh ‘kebiasaan’ tindakan pilihan manusia yang dapat dilatihnya sendiri (Aristotle and Virtue Ethics | Free Essay Example (studycorgi.com) dan Aristotle’s Virtue Ethics | Introduction to Ethics (lumenlearning.com)). Mungkin saja keduanya akan sulit dibedakan secara fenomenal. Iman kristiani mengajarkan bahwa bukan fenomena, melainkan ‘hati’ manusia, yang dinilai oleh Tuhan (1 Sam. 16:7).
Penutup
Allah yang adalah Kebenaran, dapat menyatakan kebenaran-Nya dengan berbagai cara dalam berbagai disiplin ilmu. Menyikapi prinsip “All Truth is God’s Truth” ini dengan pikiran dan hati yang terbuka, akan menolong meraih pemahaman yang lebih ‘lengkap’ atas pernyataan iman kristiani yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi pendengaran kita. Bahkan, bagi orang yang masih asing dengan topik teologis ini sekali pun, kesediaan terbuka atas kebenaran Allah dengan cara dan bidang yang ‘tidak biasa’ akan dapat memperluas pemahamannya. Tentu saja, akan lebih baik bila disertai dengan kerendahan hati untuk mau bertanya atau pun belajar pada ‘mentor’ yang cukup akrab dan dapat dipercayai. Mentor terbaik sudah dikaruniakan Allah bagi umat-Nya, yaitu Roh Kudus (Yoh. 14:16-17,26).
Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah Saja (Soli Deo Gloria).
