Ninja Warrior

Photo by Alexandr Podvalny on Pexels.com

Manusia sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar rupa Allah (Kej. 1:26-27), masuk akal bila memiliki keluasan ragam kapasitas diri seperti yang diulas di atas. Bahkan Sigmund Freud menyampaikan adanya perkembangan psikoseksual manusia, Lawrence Kohlberg menyampaikan perkembangan moral manusia, James Fowler mencermati perkembangan iman manusia, dan Abraham Maslow mengevaluasi akan tahapan perkembangan kebutuhan manusia (catatan kaki buku karya Yakub B. Susabda, Mengalami Kemenangan Iman: Integrasi Teologi & Psikologi. Jakarta: Literatur Perkantas, 2020).

Orangtua yang di posisikan sebagai teladan dan pendidik anak-anaknya, juga pernah berada dalam posisi sebagai seorang anak yang meneladani dan dididik oleh orangtuanya, demikian seterusnya. Dunia yang telah jatuh dalam dosa (narasi Kej. 3), sekaligus yang naturnya pasti berproses, akan melahirkan seorang anak manusia yang memiliki unsur herediter (ketidak-sempurnaan genetik) dan menjalani pembelajaran yang tidak sempurna. Dengan demikian, tidak mungkin penerima Hukum Shema tersebut akan mampu melaksanakannya secara sempurna seturut dengan standar Tuhan yang absolut sempurna. Jadi, anak-anak yang menerima penerusan dan didikan ‘keteladanan’ orangtuanya selaku pelaksana dan pendidik, pasti juga tidak mampu melaksanakannya secara tepat.

Photo by Maruf Bijoy on Pexels.com

Secara alami, tidak mungkin mengintegrasikan firman Tuhan yang sempurna ke dalam diri manusia dengan realitas psikologisnya yang tidak sempurna. Oleh karenanya, manusia sepatutnya bersyukur kepada Tuhan yang berjanji akan memberikan Penolong (Yoh. 14:16=17) dan menepatinya dengan menganugerahkan Roh Kudus sebagai meterai dalam ‘hati’ umat-Nya (2 Kor. 1:21-22; Ef. 1:13). Roh Kudus inilah yang akan mengajarkan dan mengingatkan akan firman Tuhan (Yoh. 14:26). Hal ini merupakan anugerah Tuhan yang melampaui segala akal manusia.

Profesional Kristiani

Tulisan dalam Kitab Suci kristiani dipercayai sebagai tulisan yang diilhamkan oleh Tuhan (lihat Komunikasi Kekinian – Laman 2 – faithfulONE Ministry), sehingga bermanfaat untuk pendidikan sesuai kebenaran Tuhan (2 Tim. 3:16). Roh Kudus sebagai Penolong, akan menolong memperbaiki kelakuan umat-Nya dengan cara bertahap memperbaiki realitas psikologisnya dan meningkatkan tahapan imannya, sehingga mampu untuk mengintegrasikan kebenaran firman Tuhan dalam dirinya (lihat ‘perkembangan iman’ oleh James Fowler di TERSERAH – Laman 3 – faithfulONE Ministry). Hal ini akan membuat individu tersebut makin diperlengkapi untuk mampu melakukan olah-pikir, olah-rasa, dan olah-laku yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan (2 Tim. 3:17).

Secara bertahap, dengan karya anugerah dari Roh Kudus, individu kristiani yang telah dimeteraikan dengan Roh Kudus, dimampukan untuk melakukan apa pun bagi Tuhan (Kol. 3:23). Bidang profesi apa pun yang sedang dijalani oleh individu yang bersangkutan, akan selalu diintegrasikan dengan kebenaran firman Tuhan. Dengan demikian, teosentris yang menjadi landasan dalam Hukum Shema tersebut, dapat nyata pada aktifitas yang nampak dalam hidup umat-Nya (antroposentris).

Tentu saja kondisi ini bukan terjadi seketika, melainkan melalui proses peran serta manusia yang secara disiplin, terus-menerus bekerja keras untuk mentaati karya Roh Kudus dalam dirinya. Proses pembelajaran ini akan berlangsung seumur hidupnya, sebagaimana yang dipahami dalam konsep pengudusan bertahap (progressive sanctification, lihat Keselamatan 9: Pengudusan – YouTube), serta selaras dengan konsep providensia yang diimani umat kristiani (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube). Apabila hal ini dijalankan secara terus-menerus, maka profesional kristiani akan mempertontonkan profesionalitasnya dalam perlombaan hidup yang disediakan Tuhan baginya. Semuanya bagi kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo Gloria.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

Tinggalkan komentar