Relasi manusia-Tuhan
Tuhan menciptakan manusia dengan sangat istimewa, yaitu seturut ‘gambar rupa’ diri-Nya (Kej. 1:26). Secara logis, anak akan memiliki banyak keserupaan fisik dengan orangtua kandungnya. Bahkan manusia mengenal dan menerima adanya ‘penyakit keturunan’ yang merupakan ‘penyakit bawaan,’ yaitu ‘penyakit kritis’ yang diderita oleh bapak leluhurnya secara turun temurun.
Mungkin saja ada generasi yang bukan penderita, namun paling tidak mereka merupakan ‘pembawa’ penyakit tersebut dan akan dapat meneruskannya pada keturunan berikutnya. Hal ini merupakan keserupaan yang bersifat negatif. Iman kristiani mengakui dosa pemberontakan manusia dengan ambisi tak logisnya, yaitu menyamai kedaulatan Sang Pencipta sebagai penentu mana yang baik dan yang jahat (Kej. 3).
Tidak ada orangtua yang membiarkan begitu saja bila anak kandungnya menderita penyakit mematikan. Orangtua yang mengasihi anaknya akan berupaya dengan segala daya untuk menyembuhkan penyakit anaknya tersebut, agar anaknya tidak menemui kematian. Bahkan tidak segan untuk menyerahkan nyawanya asalkan anak yang dikasihinya tersebut dapat terbebas dari penyakit mematikan tersebut.

Sebagai gambar rupa Tuhan, apa yang dilakukan oleh orangtua kandung kepada anak yang dikasihinya itu, merupakan cermin dari isi hati Tuhan. Melihat manusia sebagai gambar rupa-Nya harus menghadapi kebinasaan sebagai konsekuensi dosa pemberontakannya, Tuhan terdorong oleh natur-Nya sendiri untuk memberikan pengobatan atas penyakit dosa tersebut agar manusia tidak mengalami kebinasaan.
Tuhan tidak melakukannya dengan menggunakan hakekat kekuasaan-Nya, walau pun sebagai Sang Pencipta, Tuhan memiliki otoritas kuasa penuh atas semua ciptaan-Nya. Hakekat yang ditunjukkan Tuhan untuk menyelesaikan dampak mematikan dari dosa pemberontakan manusia adalah keadilan-Nya, di samping hakekat kasih-Nya. Hakekat keadilan-Nya ditunjukkan dengan kerelaan-Nya untuk menerapkan ketentuan yang sama atas dampak dosa pada diri-Nya sendiri.
Walau pun Tuhan sama sekali tidak berdosa, diri-Nya rela untuk diperhitungkan menanggung dosa umat manusia, yang berujung pada kematian. Tuhan yang tidak dibatasi oleh apa pun termasuk dimensi waktu, dari kekal telah menetapkan jalan keluar atas kebinasaan akibat dosa tersebut. Hakekat ketidakberubahan karena tidak dibatasi oleh dimensi ciptaan apa pun, menolong pemahaman logis akan konsistensi Tuhan dengan ketetapan-Nya, bahwa dampak dosa adalah kebinasaan.
Bila Tuhan adil, maka ciptaan -khususnya manusia- harus binasa. Bila Tuhan adil, maka harus ciptaan -khususnya manusia- yang mengalami kebinasaan tersebut. Keadilan Tuhan memenuhi keharusan tersebut. Inilah penjelasan logis tentang keyakinan iman kristiani atas inkarnasi (Flp. 2:5-7), hingga kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai kematian terkutuk (Ul. 21:22-23; Gal. 3:13). Pada kenyataannya, Yesus Kristus sepenuhnya tidak berdosa karena sepenuhnya taat sepanjang hidup hingga mati-Nya (Flp. 2:8).
Tentu saja, kematian sebagai dampak dari dosa, tidak berkuasa menahan Yesus Kristus. Itu sebabnya Yesus Kristus bangkit dari kematian sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci kristiani menurut kesaksian berbagai orang di jaman dan tempat tersebut (Yoh 20-21; Kis. 1:3). Demikianlah jalan Tuhan dalam menyelesaikan masalah dosa tersebut.
Horeee…, jadi manusia sudah bebas dari kematian donk! Kok kenyataannya, kematian manusia masih terus terjadi, termasuk sebagai korban covid-19 dalam pandemi saat kini! Bagaimana penjelasan logisnya????
Perintah atau Undangan Kasih?
Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi contoh perdana atas pengalaman serupa yang pasti akan dialami oleh manusia tebusan-Nya, asalkan memenuhi ketentuan ‘syarat dan kondisi’ yang melekat padanya. Seringkali kenyataan tentang adanya ketentuan ‘syarat dan kondisi’ itu, diabaikan bila membicarakan relasi manusia-Tuhan, karena banyak didengungkan bahwa Tuhan itu adalah kasih (1 Yoh. 4:8). Apalagi bila dilanjutkan dengan klaim bahwa Tuhan itu beda dengan manusia, sehingga bila manusia penuh perhitungan kepada sesamanya manusia, maka Tuhan pastinya tidak perhitungan kepada manusia. Tuhan juga tahulah….., manusia itu khan penuh dengan kelemahan, dsb…, dll…
Segudang klaim atau pun argumentasi ‘mau enaknya sendiri’ itu kembali menunjukkan akan ‘sesat pikir’ yang telah sempat dibahas pada blog sebelumnya (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry dan Valentine’s Day – faithfulONE Ministry). Selain itu, argumentasi atau pun klaim ‘bodong’ tersebut sekaligus memposisikan Tuhan sebagai Pribadi yang tidak konsisten. Busyeettt…! Yesus Kristus sebagai inkarnasi Allah Putera saja, menerapkan ketentuan ‘syarat dan kondisi’ yang berlaku. Salah satu ketentuan ‘syarat dan kondisi’ yang penting adalah “percaya kepada Yesus Kristus” (Yoh. 3:16).
Ilustrasi penjelasan logisnya sebagai berikut: Semua orangtua yang ‘sehat’ pastinya mengasihi anak kandungnya. Pelayanan baik selalu diberikan orangtua kepada anaknya tersebut. Pelayanan tersebut tidak pernah diberikan secara paksa, harus ada kesediaan anaknya untuk menerima pelayanan yang diberikan. Bila anaknya tidak mau menerima pelayanan tersebut, maka pelayanan tersebut tidak dapat dinikmati oleh sang anak karena orangtuanya tidak akan memaksakannya pada anaknya. Walau pun sedih, dengan berat hati orangtua tersebut terpaksa melepaskan pelayanan baik yang akan diberikannya, sehingga sang anak pasti tidak dapat menikmati kemanfaatan dari pelayanan tersebut.
Memang ilustrasi di atas tidak dapat sepenuhnya menggambarkan secara tepat akan ketentuan ‘syarat dan kondisi’ bagi relasi manusia-Tuhan. Ketentuan tersebut merupakan misteri ilahi yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh manusia, namun paling tidak dapat diterima bahwa Tuhan tidak memaksakan manusia untuk menerima pelayanan kasih-Nya.
Manusia yang tidak menerima ketentuan “percaya kepada Yesus Kristus” sebagai ‘syarat dan kondisi’ yang berlaku, pasti tidak menerima kebaikan karya salib Yesus Kristus baginya. Dengan demikian, dirinya juga tidak dapat menerima kebaikan-kebaikan lainnya, karena dirinya yang masih dalam ikatan dosa, pasti terpisah dari Tuhan yang mahakudus. Berkat-berkat pemeliharaan dan perlindungan Tuhan yang mahabaik, juga tidak akan diterimanya (lihat Yes. 59:1-2).
Kitab Suci kristiani beberapa kali menuliskan pernyataan “kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2; 20:7,26; 1 Ptr. 1:16). Pernyataan tersebut bukanlah merupakan perintah semata. Bila pernyataan tersebut diterima hanya sebagai perintah, maka relasinya menjadi bersifat sebagai relasi hamba-tuan. Padahal, tersirat bahwa relasi yang dikehendaki adalah relasi kasih, yang dapat diilustrasikan sebagai relasi orangtua dengan anak kandung yang dikasihinya. Orangtua yang berkualitas baik, tentunya ingin agar anaknya juga memiliki kualitas baik seperti dirinya.
Tuhan yang berhakekat sempurna secara absolut, juga menghendaki agar umat milik-Nya, yang telah ditebus melalui karya salib Sang Inkarnasi Allah Putera, memiliki kekudusan agar serupa dengan diri-Nya yang mahakudus. Dengan demikian, segala kebaikan Tuhan bagi umat-Nya tidak lagi terhalangi oleh dosa. Jadi, pernyataan tersebut bukanlah merupakan perintah bila disikapi dalam relasi orangtua-anak, melainkan merupakan ungkapan kerinduan hati orangtua yang ingin agar anak yang dikasihinya benar-benar menjadi serupa dengan dirinya dan menerima segala kebaikan darinya.
Penutup
Saat ini umat kristiani sedang menjalani minggu-minggu pra-paskah, yang dilakukan dengan menghayati ‘penderitaan’ Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Selain itu, pandemi covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, menimbulkan berbagai ‘penderitaan’ umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Ada banyak ‘kehilangan’ yang dialami, mulai dari hilangnya mata-pencaharian hingga meninggalnya orang-orang yang dikasihi. Ada banyak kekuatiran, mulai dari kemungkinan terjangkit penyakit mematikan yang disebabkan oleh covid-19 hingga sumber pendanaan untuk membiayai kebutuhan hidup, dan sebagainya.
Kondisi ini dapat memunculkan berbagai pertanyaan tentang kasih Tuhan. Kesadaran dan penerimaan akan adanya ketentuan ‘syarat dan kondisi’ dalam relasi manusia-Tuhan, mudah-mudahan menolong umat tebusan Yesus Kristus untuk berjuang hidup seturut dengan ketentuan-Nya. Mengimani kebenaran status sebagai ‘anak pungut’ Tuhan akan menolong menyikapi dan membangun relasi kasih dengan Sang Bapa, sehingga hal ini dapat menjadi penghiburan dalam menjalani kehidupan saat kini yang tidak mudah.

Di samping itu, semoga manusia tidak lagi menjadi “serigala” bagi sesamanya manusia, melainkan dapat menjadi “sahabat” bagi sesamanya manusia (Homo homini socius) sebagaimana dicetuskan oleh Seneca. Dengan demikian, ketentuan ‘syarat dan kondisi’ biarlah lebih bersifat sebagai petunjuk untuk memudahkan calon pengguna ‘kontrak pelayanan’ agar dapat menemukan pelayanan yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Bila kondisi ini dapat terwujud, maka diharapkan dunia akan menjadi lebih baik karena manusia yang menempatinya berubah menjadi lebih serupa gambar Sang Pencipta. Terpujilah Tuhan.
