Hukum Terutama
Ada bagian Kitab Suci kristiani yang memuat narasi menarik, yang dicatat dalam ketiga kitab Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). ‘Ahli Taurat’ memberikan ‘jebakan Batman’ kepada Yesus Kristus, Sang Inkarnasi Allah Putera, mengenai hukum yang terutama (Mat. 22:34; Mrk. 12:28; Luk. 10:25-26). Ada sedikit varian dalam pencatatannya. Saya akan ulas dengan teks dalam kitab Injil Matius (Mat. 22:37-40).
Teks dalam kitab Injil Matius tersebut mencatat 2 aspek cinta, yang ditegaskan memiliki keutamaan yang sama. Satu aspek menunjuk Tuhan Allah sebagai objek cinta, aspek lain menunjuk manusia sebagai objek cinta. Satu aspek bernuansa teosentris (berpusatkan pada Tuhan Allah), aspek lainnya bernuansa antroposentris (berpusatkan pada manusia).
Kok bisa ya…? Apakah Matius salah tulis??? Tentu saja tidak, karena penulisan teks Kitab Suci diyakini berdasar prinsip inspirasi (pengilhaman). Prinsip ini meyakini bahwa manusia yang dipilih menuliskan teks Kitab Suci akan sepenuhnya dipimpin oleh Allah Roh Kudus pada saat menuliskannya, dengan tanpa meniadakan kesadaran dan kepribadian unik sang penulisnya (lihat refleksi ASBUN: Komunikasi Kekinian – faithfulONE Ministry).
Memperlakukan salah satu aspek cinta sebagai lebih utama daripada aspek cinta lainnya, berarti memelintir (distorsi) firman Tuhan. Untuk itu, ada konsekuensi tidak nyaman yang akan ditanggung. Bila menambahi, akan menerima tambahan malapetaka. Bila mengurangi, akan ditolak dari ‘kota kudus’ dan ‘pohon kehidupan’ (kitab Wahyu 22:18-19).
Bukankah Yesus Kristus sendiri telah memberi teladan dalam mewujudkan kedua aspek cinta tersebut secara lengkap dalam kehidupannya di dunia?
Yesus Kristus mendemokan komitmen cinta-Nya kepada Allah melalui kepercayaan dan ketaatan penuh-Nya kepada Allah Bapa yang menetapkan dari kekal akan karya penebusan dunia (Pactum Salutis: Perjanjian Keselamatan antara Allah Bapa dengan Allah Putera sebelum dunia dicipta, melalui karya inkarnasi hingga kematian salib sang inkarnasi Allah Putera, sebagaimana gambaran dalam Surat Filipi 2:5-8). Ulasan lanjut akan Pacta Salutis dapat dilihat pada Allah 9 – Ketetapan Allah: Penebusan – YouTube.
Yesus Kristus dengan gamblang menyatakan bahwa ‘makanan-Nya’ adalah melakukan kehendak dan pekerjaan Allah Bapa (Kitab Injil Yohanes 4:34). Untuk itu, Yesus Kristus bukan hanya melakukan aktifitas kerohanian melalui berdoa, mengusir ‘setan,’ dan mengajar ‘teologi,’ melainkan juga ‘memberi makan,’ menyembuhkan penderita sakit, ‘membayar pajak,’ ‘mengamankan pelayaran,’ dan sebagainya, yang langsung ‘bermanfaat’ secara jasmani bagi manusia.
Dengan demikian, Yesus Kristus tidak menentang aspek antroposentris, bahkan ‘sepertinya’ banyak mewujudkan aktifitas bernuansa antroposentris sebagai bentuk pelaksanaan teosentris. Bagaimana mungkin kita dapat menjadikan Allah yang tidak kita lihat sebagai pusat kehidupan kita, bila kita abai akan manusia sebagai citra-Nya yang kelihatan (Surat 1 Yohanes 4:20)?
Jangan-jangan…, kita sudah mempraktekkan ‘dualisme’ (konsep yang mempertentangkan secara kontras antara dua aspek yang dipandang sebagai ‘keberadaan’ yang ‘terpisah’), walau pun kita menyatakan menolak paham tersebut. Ataukah, kita takut dikatakan tidak rohani bila fokus pada pemenuhan kebutuhan sesama manusia? Ketakutan yang ‘bakalan’ menghambat pengembangan potensi diri, yang bibit kapasitasnya sebenarnya telah dikaruniakan Sang Pencipta yang Mahabijak kepada kita. Semoga tidak demikian.
Penutup
Cinta yang mula-mula (the first love) memang penting, penuh warna dan gelora, mungkin juga sulit dilupakan. Cinta pertama yang bersifat romantis, menjadi bahan penelitian bagi beberapa ahli tertentu karena merupakan salah satu titik penting perjalanan hidup manusia. Allah sendiri menuntut agar umat-Nya tetap memelihara cinta pertama umat kepada-Nya (Kitab Wahyu 2:4-5). Peringatan Allah tersebut sekaligus menekankan pentingnya komitmen untuk menjaga cinta pertama tetap awet.
Terjerat dalam budaya mengagungkan cinta pertama yang bersifat romantis, merupakan ‘sesat pikir’ yang dikelola oleh pelaku bisnis yang mementingkan raupan keuntungan semata dengan memanipulasi wawasan dunia calon konsumen yang disasarnya. Perlu terbuka pada pemahaman logis akan keragaman varian cinta. Mewujudkan cinta haruslah mewaspadai jerat ‘dualisme’ teosentris-antroposentris, agar tidak memelintir, menambahi, atau pun mengurangi makna cinta sebagai ‘Hukum Terutama.’
Akhirnya terpulang kepada masing-masing individu, bagaimana ingin menyikapi ‘Hari Valentine’ yang secara tradisi jatuh tiap tanggal 14 Pebruari. Sila tetapkan secara bebas dan bertanggungjawab. Semoga ‘pilihan bebas’ Anda diperkenan oleh Sang Mahakasih. God Bless You.
