Valentine’s Day

Photo by Criativithy on Pexels.com

Setiap tahun di tanggal 14 Februari, dunia merayakannya sebagai hari cinta kasih. Banyak orang yang menandai hari itu sebagai kesempatan untuk menyatakan cintanya kepada kekasih hatinya. Peluang tersebut diraih oleh para pedagang untuk menjual berbagai pernak-pernik simbol cinta. Biasanya berupa coklat mau pun permen, setangkai bunga segar, kartu ucapan, atau hiasan berbentuk hati, marak dipakai sebagai simbol pernyataan cinta.

Awal mula kegiatan ini sebenarnya merupakan Ritual Lupercalia di jaman Romawi kuno, yang menyambut berakhirnya musim dingin dan digantikan dengan musim semi. Tradisi tersebut menyembah Faunus, dewa pertanian Romawi kuno, sebagai perayaan kesuburan (fertility festival).

Gereja Katolik Roma kemudian menggantikannya sebagai hari perayaan memperingati akan St. Valentine yang mati sahid sebagai martir di tangan Kaisar Claudius II. Ada 3 tokoh mitos yang tercatat sebagai St. Valentine. Kepastian tokoh St. Valentine mana yang dimaksud, masih merupakan misteri tersendiri, namun semuanya dikatakan menjadi martir karena menentang kendala yang dihadapi pasangan yang saling mencintai.

Hari Valentine kemudian dirayakan sebagai hari cinta romantis. Bagaimana sebaiknya umat kristiani menyikapinya…?

Budaya Bercerita

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Sejarah manusia erat kaitannya dengan cerita. Bercerita (storytelling) merupakan cara ampuh sejak jaman kuno untuk menyampaikan kisah keberadaan manusia secara menarik, terimpovisasi oleh penutur, dan mengakomodasi imajinasi pendengarnya.

Uniknya, penutur tidak membentuk ‘tembok pemisah’ dengan pendengar. Ada interaksi antara penutur dan pendengar, sehingga kisah yang diceritakan dapat berkembang sedemikian rupa dengan memunculkan berbagai variasi ceritanya.

Pengalaman hidup di masa lalu, keyakinan iman, dan pengetahuan sang pendengar, akan turut mewarnai kisah tersebut. Pencatatan cerita yang kemudian memakai berbagai sarana, tidak menghapuskan budaya bercerita secara lisan. ……. (ref: https://storynet.org/what-is-storytelling/).

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Berbagai bidang keberadaan manusia (misal sosial-politik-psikologis dsb) selalu dapat disampaikan dari generasi ke generasi dengan cara ‘bercerita’ tersebut. Manusia butuh cerita, untuk menjadi katup pelepas dari ‘keterbisuan’ (silenceness) di tengah pengalaman hidup yang tidak selalu menyenangkan. Sekali suatu cerita ‘diterima’ (adopted), sulit untuk dimusnahkan, sekalipun kebenaran kisahnya diragukan. Cerita menjadi kebutuhan universal karena menjembatani perbedaan usia, budaya, bahasa, dan lainnya.

Cerita juga secara alami mudah diserap oleh otak manusia, yang berkemampuan untuk paham-ingat-menceritakan ulang. Mekanisme pikir otak manusia berbentuk narasi (narrative structures), dan paling mudah mengingat sesuatu dalam bentuk cerita (story form).

Manusia butuh proses internalisasi personal untuk dapat menyadari makna ‘kisah’ tersebut, selaras dengan keunikan kepribadiannya secara individu. Pemahamannya itu dapat menolongnya untuk menemukan jalan keluar bagi permasalahan hidup yang dialaminya. ….. (ref: https://en.wikipedia.org/wiki/Storytelling).

Secara umum, kepribadian mencakup berbagai elemen yang menggambarkan pola berulang dari pikiran-emosi-karakteristik-tingkah laku seseorang yang kompleks dan unik dari dalam dirinya secara personal.

Secara umum, kepribadian seseorang dikelompokkan dalam ‘5 besar’ (the Big Five), yaitu:

  1. ‘Luwes’ (openness to experience).
  2. ‘Tegas’ (conscientiousness).
  3. ‘Gila hormat’ (extraversion).
  4. ‘Mudah sepakat’ (agreeableness).
  5. ‘kuatir oleh halusinasi’ (neuroticism).

Perkembangan selanjutnya ditambahkan 1 kelompok lain sehingga disebut sebagai HEXACO, yaitu ‘jujur dan rendah hati’ (honesty-humility).

Kombinasi derajat pengelompokan tersebut demikian kompleks, dan berdampak pada kecenderungan (tendencies) masing-masing individu menanggapi ‘realita.’ Kepribadian seseorang dapat saja berubah saat mengalami peristiwa penting dalam jangka panjang pada perjalanan hidupnya. Dengan demikian, dapat memunculkan ‘satu kisah, berjuta cerita.’ ….. (ref: https://www.psychologytoday.com/us/basics/personality).

Keutamaan Cinta

Topik tentang cinta merupakan topik yang digemari secara universal, karena cinta memang merupakan kebutuhan penting manusia. Abraham Maslow dalam Hierarchy of Needs menempatkan kebutuhan akan ‘cinta’ (Love and Belongingness Needs) setelah kebutuhan fisik (Physiological Needs) dan kebutuhan rasa aman (Safety Needs). Topik ini ada disinggung dalam refleksi sebelumnya (lihat refleksi ‘Ku-De-Ta’ di “COUP” – faithfulONE Ministry).

Photo by Sam Lion on Pexels.com

Cinta sendiri menjangkau makna yang luas, mulai dari emosi positif yang kuat, yang muncul dari kebiasaan baik bernilai luhur, hingga kenikmatan sederhana (simplest pleasure). Umumnya cinta merujuk pada suatu perasaan ketertarikan yang kuat dan ikatan emosional. Cinta yang bersifat positif, mementingkan kebaikan pihak lain dengan tanpa pamrih.

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Cinta yang bersifat negatif, melahirkan pemuasan egoistik.

Filsuf Yunani kuno menjabarkan cinta dalam 6 bentuk varian, yaitu:

  1. Cinta keluarga (Storge: familial love).
  2. Cinta persahabatan (Philia: frienly/platonic love).
  3. Cinta romantis (Eros: romantic love).
  4. Cinta diri sendiri (Philautia: self-love).
  5. Cinta orang lain (Xenia: guest love).
  6. Cinta ilahi (Agape: divine love).

Dunia modern menyusun varian cinta yang lain, yaitu:

  1. Cinta tak dibalas (unrequited love).
  2. Cinta yang hampa (empty love).
  3. Cinta pendampingan (companionate love).
  4. Cinta yang terwujud (consummate love).
  5. Cinta ‘mati’ (infatuated love).
  6. Cinta diri sendiri (self-love).
  7. Cinta yang adil (courtly love).

Helen Fisher, peneliti tentang manusia dan perilakunya, melihat cinta romantis lebih diwarnai oleh ‘berahi’ (lust: gairah seksual atas ‘pasangan nikahnya,’ biasanya bertahan beberapa bulan), dan ‘ketertarikan’ (attraction: gairah romantis secara individu atas ‘pasangan nikahnya,’ paling lama bertahan hingga 3 tahun). Untuk itu butuh ‘kemelekatan’ (attachment: berlandaskan pada komitmen, untuk keintiman relasi jangka panjang).

Cinta Pertama (first love) memang akan meninggikan tingkat NGF (nerve growth factor: biokimia utama sebagai mediator untuk jatuh cinta). Keadaan itu hanya bertahan setahun, sesuai hasil penelitian Enzo Emanuele, peneliti bidang biological psychology, dan tim penelitinya. ….. (ref: https://en.wikipedia.org/wiki/Love).

Dengan demikian, mengagungkan dan menonjolkan cinta romantis merupakan suatu ‘sesat pikir’ yang dikondisikan oleh ‘pasar’ untuk meraup keuntungan ekonomi semata.

Salah satu ‘sesat pikir’ (fallacy) adalah Argumentum Ad Populum yang menggunakan bias atau prasangka orang banyak sebagai argumentasinya. Salah satu cabangnya adalah Bandwagon (Kereta Meriah) dengan contohnya: “Orang-orang kasih bunga, kasih cokelat, kasih perhiasan berbentuk hati, dsb… di hari valentine kepada pacarnya. Kamu juga harus kasih dong kepada saya…ngakunya cinta…” Fallacy jenis ini dalam ketiga variannya, umum dipakai oleh pedagang untuk memanipulasi orang-orang agar terjatuh dalam jerat konsumerisme semu.

Akan lebih jahat lagi bila disertai dengan Argumen Ad Hominem yang melecehkan sasarannya, misal “Sudahlah…., aku yakin kamu tidak mampu memberi hadiah buat pacarmu di hari valentine ini, jadi apa pun alasanmu itu hanya kamu buat-buat saja.”

Lanjut ke laman 2 ….

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar