“COUP”

  • Tahapan Iman dan Realitas Jiwani

James Fowler mengamati fenomena iman seseorang dan mengelompokkannya dalam beberapa tahapan iman (Stages of Faith). Kajian James Fowler dikembangkan oleh Pdt. Yakub B. Susabda melalui integrasi iman-psikologi, dengan memperhatikan aspek realitas jiwani (psychological realities). [ref: Mengalami Kemenangan Iman: Integrasi Teologi dan Psikologi, Literatur Perkantas Jakarta, 2020).

Narasi penciptaan dalam Kitab Suci kristiani, menyiratkan keberadaan ciptaan yang berproses. Dapat disimpulkan, baik Adam mau pun Hawa tidak terlepas dari keberadaan yang berproses tersebut. Dengan demikian, mereka belum sampai pada tahapan tertinggi. Imannya, mau pun realitas jiwaninya, masih berproses untuk mencapai kepenuhan maksimalnya. Jadi, merupakan tindakan sembrono saat Adam dan Hawa mengejar pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri yang merupakan capaian puncak dalam teori Hirarki Kebutuhan-nya Maslow. Apalagi sasarannya sendiri sudah melanggar Hukum Ketidak-Berkontradiksian (LoNC: Law of Non Contradiction). Tidak mungkin ciptaan sama dengan Pencipta, bukan…???

Photo by Alex Azabache on Pexels.com

Dari fenomena yang dinarasikan, mungkin tingkatan iman Hawa baru sampai pada Intuitive Projective Faith yang ‘kurang’ tertarik dengan Sabda Allah. Paling jauh, baru sampai pada Mythical Literal Faith yang hanya fokus di sekitar kebutuhan (1)-(4) dari Maslow’s Hierarchy of Needs. Sehingga mustahil bagi Hawa untuk mampu mengintegrasikan imannya dengan realitas jiwaninya.

Bagaimana dengan Adam…???

Adam sendiri nampaknya juga belum siap untuk mampu megintegrasikan imannya dengan realitas jiwaninya. Memang benar, Adam sudah mulai menjalankan penugasan Sang Pencipta kepadanya. Juga dapat dipastikan tahapan iman Adam lebih maju daripada Hawa.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Adam telah sempat berlatih menerapkan otoritasnya dengan memberi nama pada makhluk hidup lain yang dibawa Sang Pencipta ke hadapannya. Saya yakin, Adam tidak sembarang memberi nama. Ada kemampuan pengamatan yang tepat akan natur makhluk hidup tersebut, sehingga Sang Pencipta sendiri sepakat dengan nama yang diberikan Adam bagi masing-masing makhluk hidup tersebut. Kemampuan ini jelas sangat berguna bagi Adam untuk melaksanakan tugas ‘amal-ibadah’-nya (to work and keep).

Di lain hal, nampaknya realitas jiwani Adam masih membatasi penerapan imannya dalam konteks etika. Jadi, Adam gagal diubah dan diperbarui menjadi sosok yang telah mampu mengintegrasikan imannya dalam hidupnya. Adam pun terpikat untuk mengaktualisasikan dirinya secara salah, melanggar LoNC. Dengan demikian, Adam diduga baru sampai pada tahapan Synthetic Conventional Faith.

Dampak kudeta gagal yang dilakukan oleh ciptaan kepada Sang Pencipta, melahirkan suatu konsekuensi tragis yang dialami oleh segenap ciptaan. Selalu akan ada perseteruan dalam konteks kekuasaan antara ciptaan yang satu dengan ciptaan lainnya. Perseteruan terjadi antara suami-isteri, antara manusia-makhluk hidup lainnya, bahkan antara manusia dengan ‘pekerjaannya.’ Konsekuensi tragis ini harus dipikul manusia hingga akhir hayatnya. Jadi, tidak perlu kaget bila ‘kudeta’ masih akan terus terjadi di dunia yang masih belum ‘diperbarui’ ini.

Penutup

Sebenarnya, aktualisasi diri yang tepat, tidak dapat dilepaskan dari tujuan manusia itu diciptakan oleh Sang Pencipta. Seharusnya, Adam mengaktualisasikan dirinya dengan cara memuliakan Sang Pencipta selamanya dan menikmati Sang Pencipta tersebut selamanya (Katekismus Singkat Westminster Q&A. 1.). Bila Adam dan Hawa mampu ‘menikmati’ Sang Pencipta, maka kebutuhan (1)-(4) pastilah akan terpenuhi. Tentu saja, perlu proses untuk mampu menikmati Sang Pencipta di tengah dinamika kehidupan. Namun, jaminan keberhasilan itu ada, karena kehadiran Sang Pencipta beserta kita.

Keberhasilan ‘menikmati’ Sang Pencipta, akan berbuahkan syukur pada batin (‘hati’) terdalam yang memotivasi untuk senantiasa memuliakan-Nya. Hal ini pastinya mendorong penuntasan tugas amal-ibadah (to work and keep) yang diperkenan oleh Sang Pemberi Tugas.

Soli Deo Gloria.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar