“COUP”

  • Wawasan Dunia (Worldview)
Photo by Suliman Sallehi on Pexels.com

Narasi dalam Kej. 3 Kitab Suci kristiani menyiratkan adanya perhadapan antara 2 wawasan dunia yang saling berkontradiksi. James W. Sire, seorang pembela iman kristiani (apologist), memandang wawasan dunia sederhananya sebagai ‘suatu komitmen atau orientasi mendasar dari hati’ yang akar terdalamnya pada pemahaman dan komitmen pemiliknya tentang ‘apa yang sebenarnya riil.’ (ref: Semesta Pemikiran: Sebuah Katalog Wawasan Dunia Dasar, Penerbit Momentum Surabaya, Juli 2005).

Ronald H. Nash, profesor filsafat di Amerika Serikat, menyatakan ada 5 elemen utama yang menjadi fondasi pembentuk wawasan dunia, yaitu teologi-metafisik-epistemologi-etika-antropologi. Elemen teologi dapat dikatakan menjadi sentral yang mempengaruhi 4 elemen lainnya. Teologi sebagai wacana tentang Allah, menjadi ‘roh’ bagi wawasan dunia seseorang. Bagaimana seseorang memahami tentang keberadaan-hakekat-karya Allah, akan menentukan bagaimana dirinya melihat-menilai-menyikapi ‘realita’ di dunia ini. (ref: Iman dan Akal Budi, Penerbit Momentum Surabaya, 2001).

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Photo by cottonbro on Pexels.com

Setiap orang pasti memiliki wawasan dunianya sendiri. Kelengkapan, keberpaduan, dan kelogisan wawasan dunianya perlu dicermati dan dievaluasi. Hal ini perlu dilakukan agar tidak ada bagian yang saling berkontradiksi, atau pun tidak ‘nyambung’ dalam wawasan dunianya.

Ada demikian beragamnya wawasan dunia, dan mungkin saja terjadi perhadapan antara wawasan dunia yang satu dengan wawasan dunia lainnya. Mewaspadai dan menguji wawasan dunia, baik yang dimiliki sendiri mau pun yang dimiliki pihak lain, dapat menolong terhindar dari ‘jebakan Batman,’ yaitu menerima suatu yang ‘salah’ sebagai suatu yang ‘kelihatannya benar.’

Hawa, dan juga Adam, gagal dalam membangun teologi yang tepat. Pemahaman ‘keliru’ mereka akan keberadaan-hakekat-karya Sang Pencipta, telah menjerumuskan mereka dalam jerat delegitimasi pihak lawan.

Selain itu, kemampuan untuk berpikir kritis logis (critical thinking) dapat menolong mengenali jerat ‘sesat pikir’ (fallacy) dalam suatu klaim. Klaim awal yang dilontarkan oleh Sang Lawan, mengandung beberapa kesesatan pikir, yaitu:

  • Argumentum Ad Verecundiam (cacat otoritas): Perjanjian diberikan oleh Sang Pencipta kepada Adam, sehingga Sang Lawan bukanlah pihak yang berotoritas dalam membuat klaim.
  • Ignoratio Elenchi (kemelesetan argumen): klaim Sang Lawan menyimpulkan suatu ‘realita’ yang salah, karena bila memang buah dari semua pohon dalam taman Eden tidak boleh dimakan, pastilah Adam dan Hawa telah lama ‘mati kelaparan.’

Hawa gagal mengkritisi klaim Sang Lawan, bahkan memberi ‘pembelaan’ (apologetika) yang salah konten/isi. Kesalahan Hawa langsung disambar oleh Sang Lawan dengan melontarkan klaim lanjut yang sebenarnya juga mengandung ‘sesat pikir,’ yaitu:

  • Argumen Bayangan: Sang Lawan melencengkan (distorsi) pembelaan Hawa, lalu menghancurkan pembelaan Hawa yang sudah dilencengkannya, akhirnya menyimpulkan klaim kontra.
  • Salah Sebab: klaim kontra dari Sang Lawan, mengandung ‘sesat pikir’ dalam 2 hal, yaitu:
  1. Non Causa Pro Causa (bukan penyebab, dianggap sebagai penyebab): penihilan konsekuensi kematian karena melanggar larangan Sang Pencipta, dikaitkan dengan rasa ‘tidak aman’ (insecure) dari Sang Pencipta yang bakal tersaingi otoritas-Nya sebagai penentu moralitas.
  2. Post Hoc Ergo Propter Hoc (sesudah itu, jadi itulah penyebabnya): Sang Pencipta memberi larangan untuk mencegah manusia memiliki otoritas sebagai penentu moralitas.

Keterampilan untuk mengenali berbagai ‘kesesatan pikir’ sangat penting untuk terhindar dari klaim yang ‘sepertinya benar.’ Keterampilan tersebut menolong kita terhindar dari ‘jebakan Batman.’

Apabila Hawa tidak bersegera melakukan pembelaan (apologetika) positif, melainkan melontarkan umpan balik atas klaim Sang Lawan, maka ‘beban pembuktian’ (burden of proof: tanggung jawab aktual untuk mendukung suatu klaim) akan dipikul oleh Sang Lawan. Hawa dapat melontarkan umpan balik, misal “apa dasarnya klaim Anda tersebut?” atau “bagaimana Anda dapat menyatakan hal tersebut?”…. Dengan demikian, Hawa tidak berada dalam posisi sebagai ‘sasaran tembak’ yang wajib membela pernyataannya.

Ternyata, bukan hanya wawasan dunianya atau pun keterampilan berargumentasinya saja yang bermasalah. Ada aspek lain yang perlu diwaspadai.

Lanjut ke laman 3…

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar