
“Ku-De-Ta“
Kata ‘kudeta’ berasal dari bahasa Perancis (coup d’État) yang menggambarkan pengambilalihan kekuasaan pihak yang berkuasa dengan cara yang melanggar hukum. Bahkan cara penggulingan kekuasaan tersebut bisa sangat brutal. Legitimasi (keabsahan) pihak penguasa dirusak agar dapat digantikan oleh pihak pengkudeta. Perusakan legitimasi perlu dilakukan untuk membenarkan tindakan kudeta tersebut. Dukungan dan partisipasi pihak lain (militer dan non-militer) turut menentukan keberhasilan kudeta.
Ada beberapa pemikir ‘modern,’ menyatakan bahwa di jaman kini, moralitas manusia sudah mengalami kemajuan. Manusia makin peka akan segala jenis ketidakadilan dan menolaknya. Manusia jaman kini makin sadar dan menghargai kebebasan sebagai hak asasi manusia.
Tindakan kudeta yang berdampak samping dan berkonsekuensi merugikan bagi kepentingan masyarakat akan mengalami cacat legitimasi. Jadi, legitimasinya harus ditinjau dari berbagai aspek argumentasi logis menurut Jürgen Habermas dalam Discourse Theory-nya…. (ref:https://plato.stanford.edu/entries/habermas).
Di lain pihak, Georg Wilhelm Friedrich Hegel berpendapat bahwa kebebasan bukan semata untuk memuaskan hasrat ‘hewani’ dalam diri manusia, sehingga apa pun tindakan yang dilakukan haruslah dimotivasi oleh akal sehat dan batasan normanya disepakati oleh logika sehat manusia… (ref:https://www.cambridge.org/core/journals/hegel-bulletin).
Sebenarnya, tindakan ‘kudeta’ bukan hal baru. Sudah terjadi sejak jaman dunia kuno. Apakah masih masuk akal bila jaman kini ‘kudeta’ masih terjadi? Lalu, bagaimana kita menganalisa suatu ‘kudeta?’
Tulisan berikut merefleksikan keyakinan iman saya, berdasarkan prinsip “All Truth is God’s Truth.”
Kudeta di Dunia Kuno
Ada satu narasi dalam Kitab Suci kristiani yang sangat menggelitik ‘akal budi’ saya. Dikisahkan bahwa ada suatu persengkongkolan jahat yang akan mengkudeta Sang Penguasa. Prosesnya diawali dengan ‘ketidakpuasan’ pihak-pihak tertentu, yang melontarkan kontra wawasan untuk melegitimasi Sang Penguasa. Titik terlemah dari tatanan poleksosbud (politik-ekonomi-sosial-budaya) menjadi sasaran pertama dari ‘embusan’ kontra wawasan tersebut. Dirancang sedemikian, agar kontra wawasan tersebut menjalar secara efektif sedemikian hingga mencapai pihak berposisi ‘paling strategis.’ Tentu saja…, upaya ini dimaksudkan agar dicapai ledakan revolusi yang berhasil-guna.
[Narasi aslinya di Kej. 3].


Berikut akan diulas lebih lanjut kasus kudeta di Kej. 3 tersebut:
- Proses De-legitimasi
Isu umum yang dilontarkan biasanya berupa mempertanyakan kebijakan Penguasa. Isu itu dikemas sedemikian rupa sehingga ‘sepertinya benar.’ Ada ketidaknyamanan yang seolah dialami oleh pihak yang disasar, dalam hal ini adalah Hawa. Sebagai isteri Adam, posisi Hawa sangat strategis untuk menyasar Sang Pencipta sebagai target utama. Adam sendiri merupakan pihak yang dipercaya Sang Pencipta untuk mewakili-Nya mengelola dunia ciptaan-Nya. Untuk itu, Adam telah diberi otoritas untuk memerintah dan berkuasa atas makhluk hidup lain sebagai makhluk ciptaan Sang Pencipta. Otoritas tersebut ditunjukkan melalui pemberian nama makhluk hidup lain oleh Adam. “Inget dong…, khan orang tua kita yang memberi nama pada kita sebagai anaknya. Bukan terbalik lho…” Nah, pemberian nama ini merupakan ‘simbol’ otoritas orang tua kepada anaknya. Dalam hal ini, bahkan Hawa diberi nama oleh Adam.

Nama Adam sendiri diberi oleh Sang Pencipta, menyiratkan keberadaan Adam itu dibentuk dari ‘tanah’ (Bahasa Ibrani: adamah berarti ‘tanah’ atau ‘bumi’). Perkembangan selanjutnya merujuk Adam bukan hanya sebagai manusia pertama, melainkan merujuk kepada ‘jenis’ manusia (humankind). Adam merupakan pihak yang ditetapkan Sang Pencipta untuk mewakili-Nya ‘mengusahakan’ (to work) dan ‘memelihara’ (to keep) ciptaan-Nya. Untuk itu, ada ‘Perjanjian’ antara Adam dengan Sang Pencipta. Perjanjian tersebut mencakup ‘penugasan,’ ‘pemeliharaan,’ ‘larangan dan konsekuensinya.’ Tersirat bahwa Hawa menerima informasi Perjanjian tersebut dari Adam, bukan langsung dari Sang Pencipta. Hawa menjadi titik lemah dalam relasi Adam dengan Sang Pencipta terkait konteks Perjanjian tersebut.

Sang Lawan kemudian menyasar Hawa. Isu pertama yang dilontarkan adalah berkenaan dengan aspek ‘pemeliharaan’ Sang Pencipta. Isu tersebut menjadi ‘penting’ karena sepertinya menyangkut kebutuhan mendasar Hawa. Isunya dikemas sedemikian sehingga menjadi umpan penguji wawasan Hawa akan Perjanjian antara manusia dengan Sang Pencipta. Ternyata Hawa ‘gagal paham’ akan ‘jebakan Batman’ tersebut, malahan menunjukkan ketidak-tepatan pemahamannya akan isi Perjanjian. Langsung saja kelemahan Hawa tersebut disambar oleh Sang Lawan, dengan melontarkan kontra wawasan yang kelihatannya benar, padahal berujung pada ‘maut.’ Kontra wawasan tersebut dikemas terselubung secara canggih, dengan memunculkan ‘kebutuhan’ aktualisasi diri sebagai puncak capaian manusia, yaitu ‘menjadi seperti Sang Pencipta.’
Abraham Maslow, psikolog Amerika, mengajukan teori yang mengkaitkan motivasi ‘kelakuan’ seseorang dengan kebutuhannya. Digambarkan bahwa ada jenjang kebutuhan manusia, di mana kebutuhan jenjang yang lebih bawah harus terpenuhi dulu untuk dapat menggapai kebutuhan jenjang berikutnya. ‘Tahapan Kebutuhan’ (hierarchy of needs) tersebut digambarkan sebagai suatu bangun piramida yang mengerucut ke atas.
Maslow menggambarkan ada 5 tahap kebutuhan, yaitu:
- Kebutuhan fisik (sandang-pangan-papan-udara-dsb).
- Kebutuhan rasa aman (terjamin dan terlindungi).
- Kebutuhan akan kasih dan kepemilikan (persahabatan dan relasi intim).
- Kebutuhan akan martabat diri (pencapaian sukses dan kebanggaan diri).
- Kebutuhan akan aktualisasi diri (mencapai pemenuhan kapasitas diri di segala aspek).
Tahap (1) dan tahap (2) dapat dikatakan sebagai kebutuhan mendasar. Tahap (3) dan (4) merupakan kebutuhan kepuasan jiwani. Tahap (5) merupakan puncak pencapaian diri.
Dari gagasan Maslow tersebut di atas, terlihat bahwa umpan delegitimasi yang dilontarkan Sang Lawan kepada Hawa menjadi efektif karena dipelintir seolah sebagai ancaman bagi pemenuhan kebutuhan Hawa. Kontra wawasan ini menular dan menjangkiti Adam. Terjadilah Ku-De-Ta!
Lanjut ke laman 2…



