TERSERAH

‘Keber-agama-an’ dan ‘struktur-jiwani’ manusia

Pancasila yang menjadi dasar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) mencantumkan aspek ke-Tuhan-an pada sila pertamanya. Logis lah…, bila diasumsikan bahwa rakyat Indonesia merupakan masyarakat yang akrab dengan kehidupan beragama. Pertanyaannya…, apakah kehidupan beragama itu memang sudah melebur sedemikian rupa sebagai terapan pemahaman imani dan takwa dalam hidup keseharian? Atau merupakan perwujudan model formalitas agamawi saja…..?

“Memang ada bedanya ya? Kalau beda, memangnya kenapa, so what ‘gitu loh…..”

Photo by Artem Beliaikin on Pexels.com

Kehidupan beragama hampir dipastikan tidak terlepaskan dari serangkaian ritual yang taat pada aturan-aturan yang melekat pada ritual itu. Aturan-aturan tersebut harus dituruti selama melakukan ritual agamawi tertentu agar terasa ‘afdol,’ sah dan melegakan.

Apa yang jadi latar belakang di balik aturan ritual beragama tersebut, tidak perlulah dipikirkan atau pun dipertanyakan lebih lanjut. Bisa ‘kualat’ nanti karena tidak beriman. Ujung-ujungnya bisa tidak selamat dunia dan akhirat! Mengerikan bukan……

Romo Mangunwijaya – rohaniwan Indonesia yang tangguh dan gigih membela martabat manusia, khususnya yang terpinggirkan – punya pemahaman yang lebih luas. Bagi Romo Mangun, ‘keberagamaan’ (religiositas) bersifat intimitas personal, merupakan totalitas (keseluruhan) kedalaman pribadi yang bersangkutan, sehingga bisa saja menjadi semacam ‘misteri’ bagi orang lain. Religiositas ini melampaui formalitas agamawi. Formalitas keagamaan sebagai pelembagaan iman, merupakan hal yang eksklusif, hanya oleh kelompok penganut agamanya sendiri. Religiositas (‘keberagamaan’) sendiri, mewujudkan iman dan takwa yang menjadi sifat dasar ‘kepenuhan’ manusia, yakni manusia yang termerdekakan sepenuhnya dari ‘virus’ Dosa. Religiositas itu bersifat inklusif yang menyatukan. Agama tidak selayaknya diperlakukan sebagai ilmu pengetahuan dasar semata. Agama selayaknya diterapkan secara praktis, sehingga bukan merupakan ‘hafalan intelektual’ semata. Penerapan agama secara berkelanjutan dan terintegratif, akan bertahap membarui (transformatif) pelakunya menjadi ‘manusia baru’ yang termerdekakan dari virus Dosa…….. (ref: Sastra dan Religiositas, Kanisius Yogyakarta 1988).

Harapan Romo Mangun tersebut tidak mudah dicapai. Ada aspek struktur jiwani manusia yang mempengaruhi penyikapan imannya. Berbagai tingkatannya diulas oleh James Fowler dalam Stages of Faith. Yakub B. Susabda – rohaniwan Indonesia sekaligus pendidik dan konselor kristiani – sederhananya menilai berbagai tingkatan kemanfaatan integrasi iman (teologi) dan realitas jiwani (psikologi) pelakunya, sebagai berikut: (ref: Mengalami kemenangan iman: Integrasi Teologi & Psikologi, Literatur Perkantas Jakarta, 2020).

Photo by anna-m. w. on Pexels.com
  • Stage 0 (Undifferentiated Faith): orang yang tidak ‘butuh’ memahami imannya. Setiap kebenaran ‘Sabda Allah’ tidak dapat tempat sedikit pun dalam realitas jiwaninya. Mungkin saja orang ini rajin mengikuti ritual agamawi secara formalitas, namun tingkat imannya NOL.
  • Stage 1 (Intuitive Projective Faith): mulai tertarik dengan simbol-simbol agamawi berdasarkan perasaannya sendiri. Belum tertarik dengan kebenaran ‘Sabda Allah’ sehingga tidak mungkin melakukan integrasi ‘iman’ dengan dirinya.
  • Stage 2 (Mythical Literal Faith): mulai memahami kebutuhannya akan Sang Pencipta, namun terbatas hanya bagi pemuasan manusiawi secara subjektif. Pengalaman hidup yang bersifat ‘mistis’ mewarnai ‘relasinya’ dengan Sang Pencipta. Tidak memadai untuk melakukan integrasi ‘iman’-nya.
  • Stage 3 (Synthetical Conventional Faith): melekatkan dirinya pada identitas komunitas agamawinya, sehingga pelembagaan iman sangat penting baginya. Mungkin saja orang ini menjadi aktifis penting dalam lembaga imannya, namun itu hanya menjadi asesoris bagi identitasnya. Belum dapat mengintegrasikan secara tepat.
Photo by Eduardo Braga on Pexels.com
Photo by Ksenia Chernaya on Pexels.com
  • Stage 4 (Individuative Reflective Faith): mulai mampu melihat dirinya secara jujur, khususnya dalam keberdosaannya. Aspek anugerah Sang Pencipta menjadi sangat penting baginya, dirinya yang secara alami, sepenuhnya tidak berdaya untuk beriman. Sabda Allah menolongnya untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Sang Pencipta, terintegrasi dengan struktur jiwaninya yang mulai terbuka pada kebenaran-Nya.
  • Stage 5 (Conjunctive Faith): struktur jiwaninya makin terbuka. Siap menerima penyingkapan Sang Pencipta melalui pengalaman-pengalaman imani yang baru, yang mengubahkan dirinya menjadi ‘manusia baru.’ Konsepnya akan Sang Kebenaran menjadi terbuka dan terbarui.
  • Stage 6 (Universalizing Faith): merupakan gambaran tujuan akhir ‘manusia baru,’ yaitu serupa Kristus yang merupakan ‘kesatuan’ sempurna antara Allah-manusia. Kerelaan Putera Allah melakukan ‘kenosis’ menjadi teladan praktek imani yang akan mengubahkan ‘struktur kehidupan’-nya (life structure) secara pribadi (Gal. 2:20).

Penutup

Baik Romo Mangunwijaya mau pun Pdt. Yakub B. Susabda, mengulas hidup berkemenangan yang berkaitan dengan ‘agama.’ Bukan berarti semua kita telah sukses menggapainya, jadi terus melangkah maju ke depan sambil tidak dihantui oleh yang di belakang, merupakan putusan bijak (Flp. 3:12-13). Bukan sendirian kita alami pergulatan ini, semua umat percaya juga menghadapi ancaman yang sama dari ‘Si Pembinasa Licik’ (1 Ptr. 5:8-9). Berbesar hatilah, Sang Pembebas telah menjanjikan anugerah-Nya yang cukup (2 Kor. 12:9a). Ingatlah…, ada sinergi antara anugerah ilahi dengan tanggungjawab manusia. Akhirnya, Kitab Suci kristiani mencatat, Yosua memberikan pilihan bagi umat Israel di jamannya (Yos. 24:15). Jadi, selalu ada pilihan, apa pun persoalan yang dihadapi. Saya sekeluarga memilih untuk percaya dan taat, termasuk disiplin menerapkan kebijakan 3 M.

Apa pilihan Anda…? Terserah Anda…..

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar