Analogi Covid-19 dengan Dosa
“Creation”
Kitab Suci kristiani menarasikan alam semesta dan segenap isinya dijadikan oleh Sang Pencipta dengan sungguh sangat baik. Bahkan sesuai keyakinan kristiani akan aspek imanensi, segenap alam semesta tidak ditinggalkan oleh Penciptanya tersebut. Sang Pencipta yang keberadaannya berbeda total dengan ciptaan, sebagaimana dipahami sebagai aspek transendensi, senantiasa ‘hadir’ menopang segenap ciptaan tersebut dengan kuasa ilahi-Nya. Tragisnya, ciptaan yang sungguh sangat baik ini, menjadi rusak parah karena masuknya tamu tak diundang, yaitu Dosa.
Dosa yang digambarkan sebagai ‘ketiadaan kebaikan,’ merupakan kontradiksi ekstrim dari Sang Pencipta yang adalah Sang Kebaikan. Namun itu tidak dimaksudkan bahwa Dosa memiliki ‘kualitas’ setara dengan Sang Pencipta. Salah satunya, keberadaan Sang Pencipta sepenuhnya tidak butuh dan tidak tergantung pada apa pun di luar diri-Nya (hakekat Self-Existence, Self-Sufficiency, dan Independence). Sedangkan Dosa, sangat tergantung keberadaannya pada makhluk ciptaan yang berakal-budi dan berkehendak bebas. Umat kristiani memahami bahwa hanya manusia dan malaikat yang dijadikan sebagai makhluk ciptaan yang memiliki kapasitas akal-budi dan kehendak bebas. Sebagaimana virus corona hanya melekat pada sel tertentu manusia, Dosa juga hanya ‘menyerang’ manusia dan malaikat. Dosa tidak diperhitungkan kepada hewan, tumbuhan, atau pun organisme lainnya. Tanpa ‘penerimaan’ manusia dan malaikat sebagai ‘induknya,’ Dosa tidak eksis di dunia.

Virus dapat bermutasi, Dosa juga mahir untuk berubah wujud. Misal dari dosa bohong, berubah jadi dosa benci, dosa penghasutan, dan sebagainya. Dosa akan semakin sulit dikendalikan karena Dosa juga tampil bertopeng.

Tentu saja Dosa tidak akan pernah tampil apa adanya, itikatnya hanyalah ‘mencelakakan’ bahkan ‘membinasakan’ manusia. Dosa yang telah mencemari ‘hati’ pendosa, menguasai ‘hati’ tersebut dan merusaknya menjadi penuh kelicikan. Dosa yang bekerjasama dengan ‘hati’ yang licik, tampil ‘dirias’ sedemikian hingga Dosa memikat dan menawan pendosa.
Misal tampil layaknya ‘rendah hati’ padahal tersembunyi ‘bangga diri’ yang seakar dengan ‘kesombongan’ seperti perumpamaan ‘doa orang Farisi di Bait Allah’ (Luk. 18:11-12), atau dosa ‘pelit/kikir’ tampil sebagai ‘hemat,’ dan sebagainya. Kitab Suci kristiani juga menarasikan tampilan Dosa yang bertopeng, tersirat dalam kisah Yehuda ‘membodohi’ Tamar menantunya secara terselubung (Kej. 38:11). Kesamaran Dosa akan mempersulit manusia untuk mewaspadai dan menangkalnya. Bahkan sangat mungkin bila manusia abai atas dosanya yang bertopeng itu.
Dosa juga asal-usulnya masih misteri dan cukup ‘panas’ diperdebatkan oleh para ahli. Persis seperti kemisterian asal-usul virus corona SARS-Cov-2 yang juga menjadi perdebatan tersendiri para ahli. Kalau saya sih…, hanya sampai pada sikap mengakui kenyataan adanya pandemi covid-19 dengan begitu ‘buanyaakk’-nya derita yang ditimbulkannya. Sikap saya tentang Dosa juga sama sih…, mengakui Dosa itu nyata dan bahayanya sangaaatttt serius. Bagitu seriusnya bahaya Dosa, hingga umat kristiani mengakui bahwa hanya Sang Pencipta semesta yang dapat membereskannya. Lalu…, bagaimana dengan kebijakan 3 M?
Kebijakan 3 M
Salah satu cara praktis menjaga diri dari kejangkitan covid-19 adalah berdisiplin melaksanakan 3 M. Singkatan 3 M juga dapat dipakai oleh umat kristiani untuk berdisiplin menjaga diri dari Dosa.
- Membasuh diri dengan ‘darah Kristus’ (analogi mencuci tangan pakai sabun).
Sejak Adam memutuskan untuk ‘merangkul’ Dosa melalui melawan larangan tunggal Sang Pencipta baginya, Dosa menjangkiti semua manusia keturunan Adam. Penebusan Kristus di kayu salib, tidak seketika menjadikan manusia kebal atas dosa. Memang sih…, manusia tebusan telah dimampukan untuk mengenali dan mengakui keberdosaan dirinya. Selama manusia ada di bumi yang telah terpandemi secara global oleh Dosa, manusia tebusan Kristus tetap harus terus ‘bertarung’ melawan Dosa. Aksi berbalik arah 1800 dari gerakan mendekati Dosa menjadi membelakangi Dosa (disebut sebagai pertobatan), dan sekaligus mendekat kepada Sang Penebus (disebut sebagai iman), harus terus dilakukan. Aktifitas ini menjadi bukti kenyataan rapuhnya manusia atas Dosa. Manusia tebusan terus mengalami jatuh dalam Dosa, sehingga harus terus membasuh diri dengan ‘darah Kristus’dalam pertobatan dan imannya.
- Memakai segenap ‘perlengkapan senjata Allah’ (analogi memakai masker kesehatan).
“Armor of God”
Covid-19 paling mudah menular melalui ‘droplet’ (‘bintik’ cairan yang berukuran sangat kecil) yang terlontar ke udara saat penderita batuk, bersin, bernyanyi, berbicara, dsb). Mengenakan masker kesehatan menjadi penahan droplet tersebut, mengingat hidung dan mulut sebagai area tempat sel manusia yang disasar oleh covid-19. ‘Perlengkapan senjata Allah’ (Ef. 6:11-18) merupakan masker kesehatan dalam menahan tipu daya Dosa.
- Menjauhi Dosa (analogi menjaga jarak aman fisikal).
Penderita covid-19 yang telah sembuh sekalipun, dinyatakan tetap dapat kembali terjangkit penyakit mematikan tersebut. Oleh sebab itu, semua orang tanpa terkecuali, harus tetap mendisiplinkan dirinya dengan cara hidup sehat dan menerapkan 3 M. Demikian pula umat tebusan, masih terus disasar Dosa dengan segala cara untuk dimatikan. Jangan pernah sok kuat, dengan gegabah dan kehendaknya sendiri mendekat pada ‘sikon’ apa pun yang ‘berbau’ Dosa. Pasti diterkam Dosa! (Ingat 1 Ptr. 5:8).
Lanjut ke laman 3….
