TERSERAH

“Up To You”

Virus Corona SARS-Cov-2 yang menyebabkan pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19), masih jadi trending topik. Awalnya mulai merebak di Wuhan, China, Desember 2019. Memang asal-usul virus ini masih menjadi misteri yang terus diperdebatkan. Sudah lebih setahun tamu tak diundang ini menyengsarakan banyak pihak. Indonesia termasuk negara yang terdampak, bahkan belakangan ini nampaknya makin memprihatinkan. Upaya penanggulangannya terus dilakukan, meski korbannya masih terus berjatuhan. Bukan hanya manusia yang jadi korban, aspek sosial ekonomi juga turut terjerembap. Sebagai masyarakat yang cukup kental kehidupan agamawinya, doa kepada Sang Mahakuasa terus menerus dipanjatkan. Akankah belas kasihan segera dicurahkan, hingga kelepasan derita menghadirkan sukacita?

Tulisan ini merupakan refleksi berdasarkan keyakinan iman saya.

Tergantung, namun Mematikan

Sederhananya, virus merupakan material genetik pada partikel organik (‘virion’). Ukurannya sangat kecil, tidak terlihat oleh mata manusia. Variasi ukurannya mulai dari nanometer (1 nm = 0.000000001 m) hingga micrometer (1 µm = 0.000001 m). ‘Virion’ sebagai bentuk awal virus, tidak punya ‘ribosome’ (‘organel’ ukuran kecil dan padat yang terdapat dalam sel dan berperan untuk menterjemahkan kode genetik menjadi rantai asam amino sebagai cakal bakal protein). Protein penting untuk pembentukan ‘sel.’ Virus ‘menginfeksi’ sel organisme yang disusupinya, baik itu pada tumbuhan, hewan, manusia, bahkan organisme mikro seperti bakteri. Begitu terinfeksi, proses metabolik ‘sang induk’ akan ‘dicemari’ sedemikian rupa hingga dikuasai oleh virus tersebut untuk melahir-kembangkan sang virus yang akan terus menyebar. Virus tidak dapat berkembang-biak tanpa sel hidup yang menjadi induknya, sehingga bersifat sebagai parasit.

Mike Mcrae (https://www.sciencealert.com/are-viruses-alive) menuliskan bahwa keberadaan virus masih diperdebatkan sebagai kategori ‘benda hidup’ atau bukan. Sederhananya, singkatan MRS GREN biasa dipakai untuk mendefinisikan ‘benda hidup,’ yaitu:

  • Movement: ‘bergerak’
  • Respiration: ‘bernafas’
  • Sensation: ‘merasakan’ rangsangan luar
  • Growth: ‘bertumbuh’ dan ‘perbaiki’ sel diri
  • Reproduction: ‘berkembang biak’
  • Excretion: ‘buang’ sampah metabolisme
  • Nutrition: ‘mengolah-dayakan’ nutrisi

Andrian Gibbs dari Universitas Nasional Australia (ANU) menyebutkan ada 2 fase ‘siklus hidup’ dari virus. Mulanya, ‘virion’ (bentuk awal dari virus) merupakan partikel inaktif (tidak bermetabolisme) dan tidak dapat dikategorikan sebagai ‘benda hidup.’ Kemudian, ‘virion’ akan memiliki karakteristik sebagai ‘benda hidup’ saat menjadi bagian dari sel hidup yang dicemarinya. Memang benar bahwa virus tidak memiliki kemampuan pada dirinya sendiri untuk ‘berkembang-biak’ atau pun ‘menopang’ keberadaannya sendiri di luar ‘induknya.’ Jadi menurutnya, virus tidak dapat dikelompokkan semata sebagai ‘benda mati.’

Walaupun ada demikian banyak virus di segenap bumi, tidak semuanya akan menimbulkan penyakit mematikan. Kewaspadaan perlu diberikan karena tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh virus. Vaksinasi dilakukan hanya untuk mencegah penyebarannya. Sistem kekebalan tubuh manusia yang akan menghasilkan antibodi, menjadi penangkalnya.

Photo by Polina Tankilevitch on Pexels.com

Gejala awal penderita covid-19 memang seperti sakit influenza/flu (umumnya: menggigil, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelelahan, dan rasa tidak nyaman secara umum). Banyak penderita influenza yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, covid-19 jauh lebih ‘mematikan’ karena berlipat kecepatan kembang-biaknya dibandingkan dengan virus influenza. Sifatnya yang ‘bertopeng’ ini menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan penyebaran pandemi covid-19. Kesamaran gejalanya, menjadi salah satu faktor keabaian manusia atasnya.

Photo by Burst on Pexels.com
Photo by Anna Shvets on Pexels.com
Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Penelitian ahli kesehatan, menyingkapkan bahwa virus corona yang memiliki bentuk tertentu, hanya akan melekat pada sel tertentu yang banyak terdapat di bagian organ pernafasan manusia. Temuan ini mendasari kebijakan 3 M (Mencuci tangan pakai sabun, Memakai masker kesehatan, Menjaga jarak aman fisikal) yang muncul dari hikmat pengetahuan manusia yang logis. Efektifkah….?

Lanjut ke laman 2….

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar