Dikisahkan ada seorang Maha Raja yang jangkauan kerajaannya tak terukur walau pun belum sepenuhnya tereksplorasikan. Maha Raja ini memiliki kebijakan yang demikian mulia sehingga tidak ada satu pun makhluk hidup di kerajaannya yang tidak tunduk pada kekuasaan kedaulatannya yang diwujudkan dengan sangat baik.
Sang Maha Raja memiliki seorang ajudan yang sangat dikasihinya, dan Sang Maha Raja ingin agar ajudannya itu dapat berprestasi sebagai staf kebanggaannya. Oleh karena itu, diutuslah sang ajudan untuk menjelajahi segenap daerah kekuasaannya dan mengeksplorasinya sedemikian agar dapat mendatangkan kebaikan maksimal bagi segenap penghuni kerajaannya tersebut. Tentunya keberhasilan ekspedisi ajudan tersebut juga sekaligus akan mendemokan kemuliaan sang Maha Raja di segenap pelosok kerajaan.
Sebelum tugas ekspedisi tersebut diberikan, sang Maha Raja terlebih dulu memberikan Plakat (tally) tanda “kehadiran pribadinya” kepada ajudannya tersebut, agar sang ajudan dapat sukses melaksanakan ekspedisi pengeksplorasian kerajaannya itu. Bahkan sang ajudan dilatih sedemikian rupa di sasana pelatihan yang sangat memadai dari aspek kualitas mau pun kuantitas sarana-prasarana pelatihannya, di bawah pendampingan sang Maha Raja sendiri.
Kisah di atas merupakan bentuk narasi yang diambil dari penggalan kisah Alkitab, yi. dari Kej. 1-2, secara khusus bagian Kej. 1:26-28; 2:15. Apa sih yang mau disampaikan dalam bagian khusus itu??? Apa pula pentingnya bagi manusia di jaman now ini???
Memang sudah sangat banyak ulasan mengenai narasi Alkitab itu, mungkin apa yang akan ditulis ini juga bukanlah hal baru, namun apa salahnya bila tetap disajikan? Anggap saja sebagai selingan di saat New Normal ini.
Kej. 1:26-27 sedikit menyingkapkan prinsip cara kerja Allah bagi ciptaanNya, khususnya bagi manusia, yi:
- Perancang profesional – apa pun bidangnya – pasti merancang produknya dengan tujuan tertentu sesuai dengan kapasitas intelektual-moral-otoritasnya.
- Perancang profesional berintegritas, pasti merancang produknya sebaik mungkin sesuai dengan jati dirinya.
- Perancang profesional, pasti berupaya mewujudkan rancangannya setepat mungkin.
Menariknya, semua manusia pasti – disadari mau pun tidak – merupakan perancang bagi banyak hal dalam kehidupannya, baik yang berskala mega mau pun mikro. Maka, ketiga prinsip di atas tidak dapat diabaikan. Memang ada perbedaan dalam kapasitasnya, karena manusia merupakan makhluk yang berproses dalam ruang-waktu sehingga kenyataan ini akan selaras dengan prinsip cara pelaksanaannya yang akan diulas kemudian.
Kej. 1:28 yang dikenal oleh banyak pihak sebagai Mandat Budaya, mengandung prinsip tersendiri. yi:
- Allah bekerja dengan cara memberkati dulu sebelum menugaskan.
- Mandat Budaya merupakan tugas dwitunggal (2in1 job) yang kedua aspeknya harus terpenuhi agar tugas tersebut merupakan tugas yang masuk akal sehat.
Prinsip pertama di atas membuat manusia wajib mengoptimalkan segenap daya dirinya dalam merancang dan mewujudkan rancangannya secara profesional, sekaligus harus bergantung sepenuhnya pada berkat Allah, sebagaimana dipahami sebagai karya Providensia Allah (akan diulas tersendiri). Jelas ini bukan merupakan suatu kontradiksi, walau pun dapat dikatakan sebagai paradoks profesionalitas manusia. Dengan demikian ada aspek tanggung jawab sekaligus rasa syukur dalam keberadaan manusia.
Pernah ada pertanyaan dari seorang teman kepada saya, “seberapa besarkah berkat Allah yang dapat Anda raih?” Ini merupakan ‘jebakan Batman‘ karena bila saya katakan ‘terbatas’ maka mungkin dapat dipertanyakan seolah Allah tidak memberkati dengan limpah, namun bila saya katakan ‘tidak terbatas’ maka mungkin dapat ditertawakan sebagai tidak tahu diri. Ilustrasi yang diberikan sebagai jawaban oleh teman yang bertanya itu adalah gerakan ‘merangkulkan kedua tangannya.’ Bila hanya seorang diri maka luas area yang dapat dirangkul akan sangat terbatas. Bila saling bergandengan dengan orang lain lalu direntangkan, maka luas cakupannya akan berlipat melebihi kalkulasi ‘deret ukur’ (yi. Bukan 2 orang = 2x lipat, 3 orang = 3x lipat, 4 orang = 4x lipat, …. dan seterusnya).
Dengan demikian, Mandat Budaya menyiratkan tugas untuk bekerja sama dengan banyak sesama manusia agar dapat menaklukkan bumi dan segenap isinya. Jadi, beranak-cucu hingga ‘memenuhi bumi’ merupakan tugas yang tidak dapat dipisahkan dari tugas menaklukkan bumi dan penguasaan atas makhluk hidup lainnya, demikian pula sebaliknya. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas dwitunggal inilah yang akan mendemokan kemuliaan Allah di segenap bumi. Kenyataannya, tidak ada seorang pun manusia yang mumpuni dalam segala keilmuan dan ketrampilan sedemikian hingga tidak butuh manusia lainnya. Oleh karena itu, tidak ada keilmuan dan ketrampilan yang tidak bermanfaat, selama itu ditujukan untuk mendemokan kemuliaan Allah. Hakekat kebenaran Allah yang menjadi sumber bagi kebenaran dalam semua keilmuan yang berguna bagi keberhasilan pelaksanaan Mandat Budaya, melandasi pengakuan All Truth is God’s Truth yang menjadi dasar logis bagi pengintegrasian ilmu-iman.
Bagaimana caranya? …………(akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya).
